Pengamat Ini Sebut Selain PDIP Tidak Akan Ada Partai Yang Mau Usung Ganjar

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pembahasan mengenai pilpres 2024 benar-benar telah ramai menjadi pemberitaan berbagai media. Seolah pilpres akan berlangsung tahun depan, padahal masih lama. Aroma pilpres makin terasa dengan banyaknya lembaga survei yang merilis elektabilitas tokoh-tokoh yang dianggap akan ikut kontesasi. Hampir tiap bulan, ada saja lembaga survei yang merilis. Belum lama ini Indikator Politik Indonesia dan LP3ES merilis survei elektabilitas para tokoh yang dianggap akan maju di pilpres.

Diantara nama yang sering muncul ke permukaan di luar Prabowo Subianto, namun nama ini dianggap sudah terlalu sering ikut pilpres dan melulu kalah, ada nama Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo juga ada nama Sandiaga Uno, Puan Maharani, AHY serta Ridwan Kamil. Nama-nama itu sering diuji oleh lembaga survei secara rutin.

Berita Lainnya

Namun nyatanya sampai Bulan Mei 2021 ini, tidak ada satupun tokoh yang memiliki elektabilitas personal yang memadai untuk layak maju di pilpres. Itu karena rata-rata capaian elektabilitas mereka masih berada di bawah 25 persen. Demikian disampaikan Rahmatullah peneliti dari Konsepindo Research and Consulting kepada redaksi Indopolitika.com, Senin (10/5).

Menurutnya, hanya tokoh yang memiliki atau menguasai parpol yang bisa melenggang maju ikut pilpres 2024. Sementara tokoh yang tidak punya hal itu, harus punya daya tawar. Tawarannya ada dua, yakni popularitas dan elektabilitas yang tinggi dan konsisten atau popularitas cukup disertai dana kongkrit untuk progam pemenangan dan kampanye.

“Kalau modal populer saja tapi tidak punya dukungan dana, sulit untuk dilirik parpol. Atau modal populer dan punya elektabilitas tapi masih di bawah 25 persen, bisa ditinggal. Pilpres di Indonesia ini memang jadi ranahnya parpol karena UU hanya memberi hak pada parpol untuk mengusung calon,” ujarnya.

Ia mencontohkan kasus Ganjar Pranowo, salah kader terbaik PDIP. Walaupun raihan elektabilitasnya cukup menonjol namun ternyata irisannya dengan elektabilitas yang dimiliki PDIP nyaris sama. Bahkan elektabilitas PDIP masih di atas Ganjar dan selalu stabil menduduki kursi puncak elektabilitas parpol-parpol. Itu artinya kalau mau punya daya tawar tinggi ke PDIP maka Ganjar harus punya elektabilitas yang konstan di atas 25 persen, jauh lebih manjur lagi kalau sampai di atas 30 persen. “Jadi Ganjar harus berjuang meningkatkan tingkat keterpilihannya, harus di atas suara partai,” ujarnya.

Itu karena menurut Rahmatullah, selain PDIP, diduga tak akan ada parpol yang akan mengusung Ganjar. Sebabnya adalah Ganjar Pranowo merupakan petugas partai PDIP. Ia terlalu lekat dengan partainya, sehingga nyaris tidak berdiri sendiri sebagai tokoh. Ganjar adalah tokoh PDIP.

“Jadi kalau misalnya nanti PDIP tidak mengusung Ganjar, apakah partai lain mau mengusungnya? Padahal oleh partainya sendiri tidak diusung? Apakah ada partai yang mau mengusung kader partai lain jadi presiden sementara partainya kader itu sendiri mengusung figur lain. Tentu saja akan beda cerita kalau nanti Ganjar menyatakan keluar dari PDIP,” ujarnya.

Rahmatullah menjelaskan, dengan alasan tersebut maka tidak akan ada partai yang mau mengusung Ganjar. Jadi sebagai kader PDIP, Ganjar hanya bisa diusung oleh PDIP.

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *