Pengamat : Interaksi Teroris Tanpa HP, Sulitkan Polisi Deteksi Pergerakan Pergerakannya

Pengamat Inteljen dan Keamanan Stanislaus Riyanta

INDOPOLITIKA.COM- Pola pergerakan teroris kini berubah. Mereka tak lagi bergerak dalam kelompok besar. Meskipun tetap berafiliasi. Mereka memecahnya menjadi sel-sel teroris dalam pola yang lebih kecil dan sulit terdeteksi. Keluarga. Ya, pelaku teror kini bersembunyi dalam keluarga yang terpapar doktrin ideologi terorisme.

Itu disampaikan pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta usai menjadi pemateri dalam sebuah diskusi di Cikini (15/10). Dia menjelaskan, pasca disahkannya UU anti terorisme nomor 5 tahun 2018, pola pergerakan teroris mulai berubah. Mereka yang sebelumnya tergabung dalam kelompok-kelompok besar berubah menjadi sel-sel kecil.

Baca Juga:

“Mereka berubah menjadi sel-sel kecil dalam keluarga bahkan individu,” ujarnya.

Dia mencontohkan, kasus bom di gereja yang melibatkan satu keluarga di Surabaya, bom di Sibolga, percobaan pembunuhan terhadap Wiranto di Pandeglang. Semua aktornya melibatkan anggota keluarga. Meskipun teridentifikasi berafiliasi dengan kelompok-kelompok teroris, namun dalam melakukan aksinya, mereka bekerja sendiri-sendiri.

“Kenapa menggunakan keluarga, karena mereka sulit dideteksi. Pergerakan dalam keluarga itu aman. Karena mereka tidak menggunakan alat telekomunikasi,” ujarnya.

Sementara, pada level yang tersulit adalah aksi teror tunggal. Dilakukan oleh orang perorangan. Tetapi, pelaku tunggal itu bersimbiosis dengan pelaku tunggal lain. Menurut dia, pola-pola aksi terorisme itu akan terus berubah.

“Jadi, adaptasi pelaku teror ini terus berkembang menyesuaikan dengan bagaimana pemerintah melakukan penegakan hukum atas tindakan mereka,” katanya. (pit)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *