Pengamat: Keharmonisan Parpol Tergantung Kepentingan

  • Whatsapp
Megawati Prabowo Berkat Nasi Goreng Hubungannya Semakin membaik

INDOPOLITIKA.COM- Hubungan dua pimpinan partai politik (parpol) yakni Megawati-Prabowo  menjadi sorotan. Belakangan keduanya disebut-sebut mengalami hubungan yang dekat, khususnya sebagai pimpinan dua parpol besar di Indonesia.

Kedekatan ini terlihat ketika Prabowo Subianto menerima kekalahannya atas kemenangan Joko Widodo pada Pemilihan Umum serentak 2019. Selanjutnya, kedekatan ini terlihat ketika proses pemilihan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) baru-baru ini.

Baca Juga:

Dalam pemilihan MPR tersebut, calon dari partai Gerindra yakni Ahmd Muzani tiba-tiba mengumumkan tidak akan maju sebagai ketua, tepat di detik-detik akhir penetapan. Hal ini terjadi usai Prabowo melakukan komunikasi dengan Megawati sesaat sebelumnya.

Gerindra yang awalnya bersikukuh agar Muzani menjadi Ketua MPR, akhirnya sepakat dengan delapan fraksi lain serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD) untuk mendukung Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua MPR.

Namun, kedekatakan keduanya justru dipandang berbeda oleh Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin. Ujang mengamati kedekatan ini tidak semata-mata terjalin karena kesadaran yang tulus dari dua belah pihak, melainkan ada kepentingan yang saling menguntungkan di dalamnya.

“Jika kepentingan sama, maka akan sering bersama. Namun jika kepentingannya beda, maka saling musuhan,” ujar Ujang kepada Indopolitika.com , Selasa (8/10/2019).

Ujang mencontohkan sebelum kedekatan ini terhembus, baik Megawati dan Prabowo diketahui jadi rival. Namun, tiba-tiba saja persaingan tersebut kembali melunak dan hubungan persahabatan keduanya bersemi kembali. Hal inilah disampaikan Ujang bisa mempengauhi peta politik, salah satunya pemilihan ketua MPR periode 2019-2024 kemarin.

“Hubungan keduanya inilah yang mengubah arah dan peta koalisi bisa berubah,” ungkapnya.

Ujang menambahkan, dengan mengalahnya Gerindra pada pemilihan ketua MPR bukan berarti tanpa balasan. Hal ini mengerucut pada isu Partai Gerindra masuk koalisi Jokowi. Selain itu, juga kemungkinan Gerindra akan mendapat jatah bangku menteri pada kabinet kerja Jokowi periode 2019-2024.

Dalam hal ini, ada tiga nama yang diisulan bakal mengisi pos menteri kabinet Jokowi yakni Waketum Gerindra Fadli Zon, Waketum Gerindra Edhy Prabowo dan Sandiaga Uno. Bahkan, ujang menilai jumlah tersebut bisa saja berubah tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

“Dipolitik enggak ada yang enggak mungkin. Politik sangat dinamis, cepat berubah. Kemarin musuhan, sekarang berkawan,” pungkasnya.(pit)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *