Internasional

Penolakan Warga Myanmar Terhadap Etnis Rohingya

Para pengungsi etnis Rohingya di Bangladesh akan dikembalikan ke Myanmar (Foto: AFP).
Yangon: Penduduk desa di Myanmar mengatakan bahwa mereka akan pergi jika para pengungsi Rohingya kembali ke desa lama mereka.
 
Hampir satu tahun sejak ratusan ribu Muslim Rohingya mulai melarikan diri dari negara bagian Rakhine utara di Myanmar. Pelarian itu menyusul kekerasan yang oleh PBB disebut sebagai pembersihan etnis.
 
Pada tur yang dihelat pemerintah ke daerah tersebut, Sky News mengunjungi sebuah desa etnis minoritas Mro. Di mana para tokoh masyarakatnya mengklaim teroris militan membunuh delapan warga komunitas mereka, Agustus lalu.
 
Pemerintah membangun kembali rumah dan sekolah setelah serangan. Sesepuh desa tidak bisa memastikan apakah ada di antara pemberontak merupakan warga etnis Rohingya. Tetapi mengatakan bahwa mereka tidak bisa lagi hidup berdekatan.
 
"Jika mereka kembali, kami akan meninggalkan desa kami," kata San Tun, seperti dinukil dari Sky News, Jumat 24 Agustus 2018.
 
"Kami mengadakan rapat untuk mendiskusikan kembalinya mereka. Bahkan orang yang lebih tua mengatakan mereka tidak bisa tinggal bersama Rohingya," tegasnya.
 
Kendati muncul permusuhan sejak Januari, pejabat di Myanmar menyatakan siap memulangkan para pengungsi dari beberapa kamp di Bangladesh. Namun PBB memperingatkan bahwa kondisinya belum tepat.
 
Sky News mengunjungi dua pusat repatriasi baru yang telah dibangun untuk memproses para pengungsi yang kembali.
 
Di pusat penampungan Ngakhuya, sekelompok orang yang disebut telah kembali dari Bangladesh mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka tidak lari ke negara itu.
 
Sebaliknya, mereka mengaku telah dipindahkan dari penjara di Myanmar sesudah dituduh melakukan imigrasi ilegal.
 
Mereka jelaskan bahwa tentara menangkap mereka di desa mereka di Rakhine utara dan menuduh mereka datang dari Bangladesh, tuduhan yang mereka sangkal.
 
Direktur Imigrasi U Win Khine menegaskan bahwa pusat itu belum memproses pengungsi yang dipulangkan sejak dibuka pada Januari.
 
"Mereka belum kembali karena mereka menikmati bantuan yang mereka dapatkan di Bangladesh," katanya.
 
"Kami menunggu di sini, mereka tidak mau kembali – itu saja!" cetusnya.
 
Klaim Myanmar memulangkan keluarga pertama Rohingya pada April telah banyak diperdebatkan. Banyak pengungsi menolak pulang sampai hak dan kebebasan mereka dijamin.
 
Dil Mohammad berada di antara sekitar 6.000 orang Rohingya yang terdampar di sebuah kamp kebanjiran di "tanah tak bertuan" antara kedua negara.
 
Dia katakan makanan sedikit dan banyak orang sakit karena akses oleh lembaga bantuan dibatasi.
 
Meskipun kondisinya buruk, dia mengatakan mereka tidak akan kembali ke rumah mereka tanpa intervensi PBB.
 
"Empat dari penduduk desa kami tewas tahun lalu, enam luka-luka," katanya.
 
"Aku ingin kembali ke kampung halaman kami (tapi) itu belum aman," tambahnya.
 
Agustus lalu, lebih dari 700.000 orang Rohingya melarikan diri dari kampanye pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran. Mereka menuduh pasukan keamanan melakukan kekerasan sebagai pembalasan atas serangan oleh gerilyawan Muslim.
 
Selama tur, Sky News melihat bukti rumah yang dibakar dan ditinggalkan di Rakhine utara.
 
Pejabat pemerintah setempat mengakui Rohingya sudah melarikan diri, tetapi membantah pihak militer bertanggung jawab.
 
"Mereka membakar rumah-rumah mereka dan pertanian mereka sendiri" kata staf di Departemen Pekerjaan Umum Maungtaw, Win Nang San.
 
Ketika ditanya mengapa orang-orang akan menghancurkan rumah mereka sendiri, dia berkilah orang Rohingya yang harus menjelaskan.
 
Klaim tersebut ditolak secara luas oleh masyarakat internasional, namun sering diulang-ulang di negara bagian Rakhine.
 
Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap empat komandan militer dan polisi Myanmar dan dua unit tentara. Menuduh mereka melakukan "pembersihan etnis" terhadap Muslim Rohingya dan pelanggaran HAM berat.
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close