Oleh: Fendry Akhyar Ariefuzzaman, S.Sos
(Alumni FISIP UIN Ciputat)
Memimpin sebuah negara bukanlah perkara sederhana, terlebih bila negara tersebut memiliki kekuatan besar dan pengaruh global. Kepemimpinan pada level ini menuntut lebih dari sekadar kecakapan politik atau kemampuan militer; ia menuntut kebijaksanaan, kedewasaan moral, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan serta perdamaian dunia.
Negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Prancis adalah contoh nyata betapa dahsyatnya kekuatan sebuah negara. Dengan kemampuan militer yang mereka miliki, negara-negara tersebut sejatinya dapat menjadi kekuatan penghancur. Namun di sisi lain, justru di tangan merekalah harapan dunia diletakkan. Jika kekuatan itu digunakan untuk menjaga stabilitas, melindungi kemanusiaan, dan mencegah konflik, maka dunia tidak harus terjerumus ke dalam era perang, kekacauan, dan penderitaan massal yang selalu menyisakan korban jiwa serta kerusakan alam.
Karena itulah, dunia selalu berharap lahirnya pemimpin-pemimpin cinta damai di negara-negara super power. Pemimpin yang tidak hanya berpikir tentang kepentingan nasional sempit, tetapi juga memiliki visi kesejahteraan universal. Tak heran jika setiap pergantian pemimpin di negara-negara tersebut selalu menjadi perhatian masyarakat internasional. Dunia sadar betul, satu keputusan keliru dari seorang pemimpin besar dapat berdampak global.
Bayangkan jika negara adidaya dipimpin oleh sosok yang emosional, arogan, dan gemar menggunakan kekuatan militer sebagai solusi utama. Pemimpin yang mudah memerintahkan serangan, merasa paling benar, dan tak segan mengancam dengan kekuatan pemusnah massal. Dalam situasi seperti itu, dunia akan berada di tepi jurang kehancuran.
Kekhawatiran inilah yang muncul ketika kepemimpinan dunia diwarnai oleh figur-figur yang bermental invasif dan gemar menciptakan ketegangan internasional. Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika pemimpin semacam itu lahir dari proses demokrasi. Artinya, ia adalah produk pilihan rakyatnya sendiri. Pertanyaan penting kemudian muncul: sejauh mana rakyat benar-benar menyetujui kebijakan agresif, ancaman konflik, atau sikap konfrontatif yang berpotensi mengguncang perdamaian global?
Di sinilah pekerjaan rumah terbesar dunia berada: bagaimana membangun tatanan global yang damai dan beradab. Generasi manusia telah berganti, teknologi informasi telah berkembang pesat, dan peradaban telah melompat jauh ke depan. Namun ironisnya, masih ada pola pikir dari sebagian pemimpin dunia yang masih terjebak pada logika perang lama dan dominasi ala awal abad ke-19.
Sudah saatnya kekuatan global diimbangi dengan kedewasaan global. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata, melainkan lebih banyak pemimpin yang mampu menahan diri, mendengar, dan mengedepankan dialog. Pemimpin dunia yang cinta damai bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti tertinggi dari kekuatan peradaban manusia. Dunia memerlukan pemimpin yang memikirkan manusia secara keseluruhan bukan manusia yang dibatasi sekat-sekat perbatasan.












Tinggalkan Balasan