Penulis Eka Kurniawan Tolak Pemberian Penghargaan Dari Kemendikbud

  • Whatsapp
Eka Kurniawan Penulis

INDOPOLITIK.COM- “Apakah Negara Sungguh-Sungguh Memiliki Komitmen dalam Memberi Apresiasi Kepada Kerja-Kerja Kebudayaan?”Tanya Eka.

Itulah pemikiran yang ada dibenak penulis Eka Kurniawan. Saat Staff Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menghubunginya dua bulan lalu. Eka, menurut Staff Kemendikbud tersebut terpilih sebagai penerima Anugrah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu yang rencananya akan diberikan pada Kamis (10/10) malam ini.

Baca Juga:

Lalu Pemberian Anugrah itu ditolak dengan alasan, apa yang diterima oleh Eka Kurniawan sebagai penulis tidak sebanding dengan apa yang diterima oleh para atlet atau olahragawan saat  SEA GAMES kemarin.

Dia menganggap bentuk apresiasi yang diberikan pemerintah sangat berbeda antara pekerja sastra, seni dan pegiat kebudayaan dan Atlet. Apresiasi yang diberikan kepada Para pekerja sastra, seni dan pegiat budaya hanya berupa plakat, pin , dan  uang 50 juta itu pun masih harus dipotong pajak.

“Pertanyaan saya adalah, “Pemerintah bakal kasih apa?” Dia bilang, antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, “Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?” Tanya Eka.

Seperti banyak diberitakan media-media nasional, saat acara SEA GAMES selesai para peraih medali emas memperoleh 1,5 miliar rupiah dan  Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Angka tersebut jelas sangat kontras perbedaannya. Kata dia, para atlet tersebut sangat dimanja oleh pemerintah.

 “Kontras semacam itu seperti menampar saya dan membuat saya bertanya-tanya, Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih?,”

Eka sempat terpikir untuk mengambil uangnya untuk dibayarkan iuran BPJS selama bertahun-tahun. Namun pikiran tersebut buyar tatkala Eka melihat arogansi pemerintah. Lantas, Eka mempertanyakan apakah negara serius dalam memberikan apresiasi kepada pekerja sastra dan seni, dan pegiat kebudayaan secara umum.

“Ketika surat resmi dikirim melalui surel datang, ternyata pertanyaan itu terus mengganggu saya. Seserius apa Negara memberi apresiasi? Memberi penghargaan kepada penulis macam saya memang tak akan menjadi berita heboh, apalagi trending topic di media sosial. Tapi, terlepas dari kekesalan dan perasaan di-anak-tiri-kan macam begitu, selama beberapa hari saya mencoba mengingat dan mencatat dosa-dosa Negara kepada kebudayaan, setidaknya yang masih saya ingat”. Tanya Eka.

Terlepas dari kekesalan Eka menolak menerima penghargaan karena alasan pemerintah tidak hadir untuk memberikan perlindungan saat beberapa toko buku digeruduk dan dirampas oleh aparat TNI.

 “Akhir-akhir ini, industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku. Saya tak ingin bicara tentang pajak yang diambil dari perbukuan, salah satu yang membuat buku terasa mahal bagi daya beli masyarakat kebanyakan. Bagaimanapun, membayar pajak adalah kewajiban semua orang. Yang jelas, sudah selayaknya Negara memberi perlindungan. Jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah (ilustrasi: gampang sekali aparat merampas buku dari toko), setidaknya Negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi? Meyakinkan semua orang di industri buku hak-haknya tidak dirampok?”papar Eka

Dari dua permasalahan yang tadi dikemukakan oleh Eka Negara abai terhadap pekerja sastra, seni dan pegiat kebudayaan.

“Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis (bahkan siapa pun?) atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan. Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar”. Tutur Eka. (pit)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *