Penunjukan Wamen Tanpa Libatkan Menteri Justru Bisa Timbulkan Konflik

  • Whatsapp
Peneliti Saiful Mujani Reserch and Consulting Jayadi Hanan

INDOPOLITIKA.COM- Pengangkatan wakil menteri (wamen) dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf Amien mengundang tanda tanya. Terutama terkait pelibatan menteri dalam proses pengangkatan wamen. Jayadi Hanan, pengamat politik Saiful Mujani Reserch and Consulting  melihat Jokowi sedang memainkan politik akomodasi.

Selain itu, Jokowi juga ingin menutupi celah minimnya kompetensi menteri yang disorot publik. Alasan lain adalah mengurangi beban kerja berat menteri.

Baca Juga:

Contoh menteri yang dianggap publik minim kompetensi adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Mantan bos ojek online itu dianggap tak kompeten di bidang pendidikan. Karena itu, Jokowi menjawabnya dengan mengangkat wamen.

Selain Mendikbud Nadiem Makarim, dia menyebut ada polemik juga di masyarakat soal posisi Menteri Agama yang dijabat pensiunan jenderal Fachrul Razi. “Jadi Wamen mungkin untuk menutupi kekurangan itu,” katanya.

Selain dua alasan itu, Jokowi juga diduga mengangkat wamen  untuk memberi penguatan kepada menteri yang memiliki beban kerja besar. Misalnya kementerian ekonomi, kementerian luar negeri dan kementerian BUMN.

“Tetapi memang (pembagian jatah wamen) terlihat sekali lebih cenderung kepada politik akomodasi,” ungkapnya.

Tetapi kini, kata dia, pertanyaan yang muncul dalam benak publik adalah  apakah menteri yang ditunjuk dilibatkan nggak dalam proses penunjukan wamen.

Bila tidak dilibatkan, tidak ada yang bisa menjamin antara menteri dan wakilnya bisa bekerjasama. Latar belakang yang berbeda antara menteri dan wakilnya bisa jadi boomerang bagi kabinet Jokowi-Ma’ruf Amien.

“Kalau tidak dilibatkan, justru bisa menimbulkan konflik. Malah kontraproduktif,” tandasnya.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *