Penyidik Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Pembobol Bank BTN Semarang & Gresik

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM- Kejaksaan Agung menetapkan tujuh orang sebagai tersangka terkait perkara dugaan tindak pidana korupsi di Bank BTN cabang Semarang dan Gresik dengan total nilai kerugian negara mencapai Rp 50 miliar.

Dari tujuh tersangka pembobol Bank BTN ini tiga diantaranya adalah pejabat tinggi bank pelat merah tersebut. Ketiga pejabat BTN tersebut adalah; SW, yang menjabat sebagai asset management division (AMD) sekaligus Ketua Serikat Pekerja Bank BTN.

Bacaan Lainnya

Lalu SB yang juga menjabat AMD Head Area II Bank BTN dan AM selaku Kepala Unit Komersial Landing Bank BTN cabang Sidoarjo.

“Total sudah tujuh orang yang kami tetapkan sebagai tersangka dari dua kasus korupsi BTN di kedua cabang itu,” kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah di Kejagung, Senin (27/01/2020).

Sementara nama keempat tersangka lainnya masih belum disebutkan oleh Febrie. Namun, menurut Febrie, keempat tersangka itu berasal dari unsur swasta yaitu PT Tiara Fatuba dan PT Lintang Jaya Property.

“Nanti saya tanyakan ke penyidiknya dulu ya,” kata Febrie.

Seperti diketahui, perkara dugaan tindak pidana korupsi ini berawal pada Desember 2011. Saat itu PT BTN Cabang Gresik telah memberikan fasilitas Kredit Yasa Griya (KYG) kepada PT. Graha Permata Wahana senilai Rp 5 miliar, hingga menyebabkan kredit macet sebesar Rp 4,1 miliar.

Dalam perkara itu, diduga ada kesalahan prosedural dalam pemberian kredit yakni tidak sesuai dengan surat edaran Direksi PT. BTN Persero Tbk.

Kemudian, Desember 2015, AMD Kantor Pusat BTN secara sepihak melakukan novasi (pembaruan utang) kepada PT Nugra Alam Prima (NAP). Plafonnya senilai Rp 6,5 miliar, tanpa ada tambahan agunan. Kebijakan ini pun menyebabkan kredit macet kembali sebesar Rp 5,7 miliar.

Dilanjutkan pada November 2016, AMD Kantor Pusat BTN kembali melakukan novasi kembali secara sepihak dari PT. NAP kepada PT. Lintang Jaya Property (LJP).

Perbuatan AMD Kantor Pusat BTN itu tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang ada. Serta dilakukan tambahan agunan dengan plafon kredit sebesar Rp 16 miliar, hingga berimbas menyebabkan kredit macet kembali sebesar Rp 15 miliar dengan kategori kolektibilitas 5.

Kejagung juga sempat memeriksa kasus tindak pidana korupsi pemberian Kredit Yasa Griya dari Bank BTN cabang Semarang kepada Debitur PT Tiara Fatuba dan novasi kepada PT Nugra Alam Prima serta PT Lintang Jaya Property.

Kasus ini terjadi pada April 2019, BTN Cabang Semarang memberikan fasilitas Kredit Yasa Griya kepada PT. Tiara Fatuba sebesar Rp 15,2 miliar. Prosedur pemberiannya diduga tidak sesuai dengan Surat Edaran Direksi BTN, sehingga hal itu mengakibatkan kredit macet sebesar Rp 11,9 miliar.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar