Perda Kawasan Anti Rokok Dikawal Satgas, Tugasnya Hanya Negur Perokok Doang

  • Whatsapp
Wakil Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie

INDOPOLITIKA- Pemkot Tangsel segera membentuk satuan tugas (Satgas) kawasan anti rokok, di tiap-tiap OPD. Tugas utamanya menegur para perokok sembarangan di kawasan terlarang ini nantinya.

Wakil Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie menyampaikan tugas pokok Satgas yang akan dibentuk itu nantinya adalah mengawasi kawasan-kawasan anti rokok, sesuai jangkauan dalam bunyi peraturan daerah dimaksud.

Baca Juga:

“Jadi ketika ada pegawai merokok atau siapapun di kawasan yang dilarang, langsung saja berikan teguran. Meski tidak ada sangsi, tetapi setidaknya kita harapkan tercipta budaya hidup sehat,” kata Benyamin, belum lama ini.

Sebenarnya, kata sosok yang akrab disapa Bang Ben ini, Perda Nomor 4 Tahun 2016 ini sudah ada sejak tiga tahun silam, tetapi baru mau diimplementasikan tahun ini. Alasanya, selama kurun waktu itu harus dilakukan sosialisasi massif dulu ke masyarakat agar mereka tahu ada Perda kawasan anti rokok. Alasan lainnya, agar tidak ada dikotomi dikalangan masyarakat bahwa PAD Tangsel juga salah satu sumbernya berasal dari rokok.

“Kita selalu dihadapkan pada dikotomi bahwa rokok menyumbang pendapatan daerah. Tapi apapun alasanya bahwa di Tangerang Selatan, kita sudah memiliki Perda kawasan larangan merokok. Ini aspirasi masyarakat,” katanya.

Merasa sudah mantap untuk diterapkan ke masyarakat, Bang Ben meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyiapkan Satgas nya sendiri-sendiri, dengan leading sektornya Dinas Kesehatan.

“Saat ini, mungkin jangka pendeknya, Perda ini hanya mengatur tentang kawasan larangan merokok. Tapi kedepan, kita harapkan dengan adanya Perda ini, akan terbentuk budaya bebas rokok, Kota Tangsel sehat dengan bebas rokok,” tegas Bang Ben.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (kesmas)  Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Iin Setiawati mengatakan selama 3 tahun sejak disahkan legislatif, pihaknya hanya melakukan sosialisasi secara intensif. Baik itu dengan menggandeng Puskesmas, tempat pengajian atau bahkan sosialisasi menyasar sopir angkot.

“Kita selama tiga tahun ini, dikasih kesempatan untuk sosialisasi kepada masyarakat. Jadi tidak langsung ada tindakan ke masyarakatnya,” tutupnya.{asa}

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *