Internasional

Pertaruhan Imran Khan dalam Pemilu Pakistan

Politikus Pakistan Imran Khan, maju dalam pemilihan umum (Foto: AFP).

Islamabad: Jutaan warga Pakiskan berbondong-bondong memberikan suaranya pada pemilihan umum Rabu 25 Juli. Pemilu berlangsung dalam situasi politik yang tegang karena tuduhan campur tangan militer dan serangkaian serangan mematikan.
 
Baca juga: Pemungutan Suara Pemilu Pakistan Dimulai.
 
800.000 polisi dan pasukan militer telah ditempatkan di lebih dari 85.000 tempat pemungutan suara (TPU) di penjuru negeri menjelang penghitungan jumlah suara. Tetapi, ketatnya pengamanan tidak menghalangi para pemilih di timur kota Lahore.
 
"Yang disebut ancaman keamanan ini adalah alasan untuk menakut-nakuti para pemilih," kata seorang pemilik toko, Kashif Ahmed, kepada AFP, Rabu 25 Juli 2018.
 
Secara singkat pemilihan tersebut telah menjadi sebuah 'kontes' antara mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dari Pakistan Muslim League-Nawaz (PML-N) dan politisi yang mantan pemain kriket Imran Khan dari Tehreek-e-Insaf Pakistan (PTI).
 
Dalam kampanyenya, Khan memberikan janji untuk membangun 'Pakistan Baru', bersumpah untuk memberantas korupsi, membersihkan lingkungan dan membangun negara dengan dasar 'kesejahteraan Islam'.
 
Tetapi janji kampanyenya dipatahkan oleh tuduhan bahwa dia mendapat keuntungan dari lembaga keamanan yang memiliki kuasa, bersama dengan media, para aktivis dan lembaga riset yang menentang "kudeta bisu" para jenderal.
 
Pihak militer, yang telah memerintah Pakistan selama kurang lebih separuh sejarahnya, menolak tuduhan kudeta tersebut. Militer juga menegaskan tidak memiliki 'peran langsung' dalam proses pemilihan.
 
Ketakutan akan terjadinya manipulasi suara dipicu karena pihak berwenang pemilu memberikan wewenang yang besar kepada perwira militer di lokasi pemungutan suara.
 
Dalam beberapa pekan terakhir ini, Khan yang merupakan salah satu kandidat yang dicurigai dekat dengan kelompok ekstremis.
 
PML-N di sisi lain mengatakan bahwa itu merupakan bentuk rekayasa dari pihak militer. Dengan melakukan tekanan terhadap kandidat berada dibawah tekanan dan mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif dipenjara beberapa hari sebelum pemungutan suara atas tuduhan korupsi.
 
"Prediksi kami sangat suram sekarang," kata  Direktur eksekutif lembaga survei Gallup Pakistan, Bilal Gilani.
 
Gilani mengatakan bahwa masih banyak pemilih yang belum memutuskan pilihannya, "Ini masih bisa diperebutkan."
 
Musim kampanye juga dirusak oleh menjamurnya partai-partai keagamaan sayap kanan dan serangkaian serangan militan berdarah yang telah menewaskan lebih dari 180 orang, termasuk tiga kandidat.
 
Serangan-serangan itu telah memicu kekhawatiran bahwa Pakistan mungkin kehilangan kekuatan keamanannya yang diperjuangkan secara keras dalam beberapa tahun terakhir. (Khalisha Firsada)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close