Internasional

Pesan "Selamatkan Hutan dan Bumi" dari San Francisco

Aksi unjuk rasa menyerukan penyelamatan bumi digelar di San Francisco, AS, 8 September 2018. (Foto: Ferdi Setiawan)

San Francisco: Dinginnya suhu kota San Francisco, Amerika Serikat, Sabtu 8 September 2018 tak menyurutkan langkah dari ribuan orang yang telah berkumpul di sepanjang Spear Street untuk menggelar Long March dari jalan utama San Francisco menuju Civic Centre, kantor dewan kota San Francisco.

Lebih dari seratus organisasi pegiat lingkungan dan puluhan elemen masyarakat lintas adat, budaya dan negara menyampaikan pesan mulia kepada masyarakat dunia tentang penyelamatan bumi dan sumber daya alamnya dari ancaman perubahan iklim dunia.yang semakin mengkhawatirkan.

Pemandangan eksentrik dan unik mewarnai aksi Long March sepanjang kurang lebih 3 kilometer itu. Tak heran jika totalitas para "Aspirator Bumi" semakin menambah kekuatan pesan moral tentang waspada terhadap perubahan iklim global kepada masyarakat dunia.


Long March penyelamatan bumi di San Francisco. (Foto: Ferdi Setiawan)

Mayoritas pengunjuk rasa menyerukan penyelamatan bumi yang meliputi sumber daya alam, termasuk air, hutan dan ekosistem biota lainnya.
 
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), yang menjadi bagian dari aksi Long March ini, turut menyuarakan pesan terhadap penyelamatan hutan di indonesia. Aktivis AMAN, Saldi Razak, memperingatkan pemerintah Indonesia atas dampak eksploitasi hutan dan alam yang berlebihan oleh perusahaan. 

AMAN mendesak pemerintah untuk mengesahkan RUU Masyarakat Adat sebelum Pemilihan Umum Presiden 2019 agar masyarakat bisa lebih berperan dalam pengelolaan hutan dan lahan di tanah air. 

"Solusi yang ditawarkan terhadap masyarakat adat untuk menjaga hutan untuk keseimbangan alam masih belum maksimal," imbuh Saldi.


Aksi digelar hingga ke area Civic Center San Francisco. (Foto: Ferdi Setiawan)

Aspirasi yang serupa juga disuarakan aktivis Walhi, Zenzi Suhadi, yang sengaja datang ke San Francisco untuk bergabung dalam Long Barch.  

Walhi ikut menyuarakan hubungan antara perubahan iklim dengan kerusakan hutan di Indonesia, termasuk dengan mendesak pemerintah untuk segera mengakui hutan adat. 

"Kami sebenarnya kepada pemerintah indonesia mengharapkan untuk mempercepat pengakuan hutan adat, kehutan sosial dan land reform, karena sektor yang paling riil untuk mempertahankan perekonomian Indonesia,: tambah Zenzi.

Dalam sepekan ke depan, akan digelar  banyak pertemuan besar di San Francisco untuk membahas perubahan iklim global. Pertemuan yang terdekat adalah Governor Climate Forum yang dijadwalkan berlangsung pada 10-11 September dan Global Climate Action Summit pada 12-14 september 2018.


Aktivis mengingatkan bahaya dari perubahan iklim. (Foto: Ferdi Setiawan)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close