INDOPOLITIKA – Beberapa pabrik besar yang memproduksi merek internasional ternama, seperti Nike dan Adidas, dilaporkan menutup fasilitas produksinya di Tangerang dan merelokasi sebagian produksi ke Jawa Tengah.

Langkah ini dilakukan oleh perusahaan untuk mencari tenaga kerja dengan upah lebih kompetitif, seiring tingginya biaya tenaga kerja di wilayah barat Pulau Jawa.

Tanggapan Kemenperin

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, membenarkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa pabrik alas kaki di wilayah barat Pulau Jawa.

“Industri alas kaki merupakan industri padat karya, di mana komponen biaya terbesar berasal dari tenaga kerja. Jadi, ketika terjadi PHK, bukan berarti produksi berhenti.

Perusahaan hanya memindahkan operasional ke daerah dengan upah lebih rendah, terutama wilayah tengah Pulau Jawa,” ujar Rizky saat ditemui di kantor Kemenperin, kemarin.

Rizky menambahkan, sejumlah perusahaan yang hengkang dari Tangerang tengah mempersiapkan pembangunan fasilitas baru di Cirebon atau wilayah lain di Jawa Tengah.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak perusahaan, komunikasi telah dilakukan melalui Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo).

“Nah, untuk kasus Tangerang, informasi yang kami terima menyebut mereka pindah ke Cirebon. Komunikasi baru datang dari asosiasi, belum langsung dari perusahaan, tapi nanti akan kita kawal,” jelas Rizky.

Meski terjadi pergeseran lokasi produksi, Rizky memastikan bahwa kinerja industri alas kaki nasional tetap positif, dengan pertumbuhan mencapai 8% sepanjang tahun ini.

Hal ini menunjukkan bahwa relokasi tidak lantas menghambat produktivitas sektor ini, meskipun berdampak sosial bagi tenaga kerja di daerah asal pabrik.

Sebelumnya, Presiden Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menegaskan bahwa beberapa perusahaan sepatu ternama mulai memindahkan lini produksinya ke daerah dengan upah minimum lebih rendah.

Contohnya, PT Tah Sung Hung, produsen sepatu Adidas, telah memindahkan sebagian produksi ke Cirebon, sementara PT Long Rich juga membuka fasilitas baru di wilayah yang sama.

Menurut Said, biaya tenaga kerja di sektor tekstil, garmen, dan sepatu bisa mencapai 30% dari total biaya operasional perusahaan. Karena itu, perusahaan cenderung memilih relokasi jika upah minimum di suatu daerah dianggap terlalu tinggi.

“Contohnya, Tah Sung dan Long Rich ke Cirebon-Brebes. Sementara Victory Chingluh kemungkinan pindah ke Pekalongan atau Batang,” tambahnya.

Langkah relokasi ini tentu menjadi tantangan bagi buruh di Tangerang yang terancam kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, industri di Jawa Tengah berpeluang berkembang pesat berkat masuknya investasi baru dari perusahaan global.

Fenomena ini mencerminkan dinamika industri padat karya di Indonesia, di mana biaya tenaga kerja menjadi faktor penentu lokasi produksi, sekaligus menunjukkan perlunya kebijakan yang mampu menyeimbangkan kepentingan perusahaan dan kesejahteraan pekerja.(Hny)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com