Pemerintahan

Pilih Tim Yang Tepat, Kunci Sukses Kepemimpinan

JAKARTA – Memilih tim yang tepat menjadi kunci sukses kepemimpinan karena seorang pemimpin tidak bisa bekerja sendiri. Penegasan itu disampaikan Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden Denni Puspa Purbasari saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional mengangkat topik Kepemimpinan di Era Disrupsi yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI), Senin 3 Desember 2018, di Jakarta.

“Ketika konteks zaman saat ini adalah volatile, uncertain, complex dan ambiguous, diperlukan tim yang tidak hanya kompeten namun juga diversed supaya saling melengkapi,” tegas Denni, yang mantan ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM.

Denni menjelaskan, istilah lingkungan yang volatile, uncertain, complex dan ambiguous atau disingkat VUCA pertama kali dikenalkan oleh US Armed Forces pada tahun 1990an saat operasi di Afghanistan. Istilah ini kemudian diadopsi oleh kalangan bisnis yang terus-menerus menghadapi perubahan dinamis untuk menyusun strategi.

Dalam kondisi VUCA, pemimpin harus comfortable being uncomfortable karena ketidaktahuan akan hal-hal yang dia sendiri tak mengerti (unkown unknowns). Struktur organisasi pun lebih pada networks daripada hirarki. “Pemimpin di zaman VUCA harus curious, agile, dan adaptif. Banyak mendengar dan berkomunikasi dengan tim, karena banyak hal yang dia tidak tahu,” ujarnya. 

Menurut doktor ekonomi lulusan University of Colorado ini, kepemimpinan strategis harus memahami tujuan organisasi dan memastikan nilai-nilai organisasi dipahami dan dimiliki oleh semua staf. “What it means to be part of this organization or enterprise, sehingga muncul suatu kultur dan kebanggaan menjadi anggota,” jelas Denni.

Di samping memiliki nilai-nilai yang sama, pemimpin strategis harus memastikan staf yang tepat di posisi yang tepat. Reward dan punishment pun perlu berjalan. Menurutnya pemimpin harus punya tiga skills, yaitu menyuruh, memarahi, dan memuji. “Sepele, namun banyak orang tidak tega, sungkan, atau berdalih ingin jadi orang baik meski sebenarnya tidak mau dan tidak mampu menyuruh atau memarahi,” ujar alumni University of Illinois at Urbana-Champaign ini.

Mutasi bahkan pemecatan pun diperlukan. Kalau tidak organisasi akan terbebani. Apalagi tantangan yang dihadapi sangat dinamis dan butuh skill yang berbeda. “Kalau kita ingin melaju secepat Ferrari, ya mesinnya harus mesin Ferrari,” tegas Denni yang pernah menjadi asisten Staf Khusus Wakil Presiden Boediono.

How to eat the elephant

Bagaimana mengatasi persoalan yang besar dan rumit? Denni mengutip nasihat lama. “How to eat the elephant? One bite at a time,” katanya. Maksudnya, masalah besar harus diurai dalam bagian-bagian kecil hingga kita punya solusi atas bagian-bagian kecil itu.

Mana dari bagian-bagian itu yang perlu diselesaikan dulu, harus ada prioritas mana yang urgent dan important. “Leader hanya mengerjakan yang urgent dan important. Kalau hanya urgent atau hanya important, delegasikan. Kalau tidak keduanya, abaikan,” ujar Denni yang menjadi lulusan terbaik dan tercepat di UGM.

Menghadapi masalah besar seorang pemimpin tidak boleh menunjukkan frustasi. Ia harus bisa see beyond fog dan mendefinisikan vision berikut end state yang dia harapkan. Oleh karenanya, clear communication kepada bawahan sangat penting agar arahan dipahami dan tidak terjadi benturan.

Tips untuk Pemimpin Perempuanp4

“Jangan terlalu baper. Stability of mind diperlukan,” kata Denni saat ditanya oleh peserta tips untuk perempuan yang memegang posisi sebagai leader.

Menurutnya, perempuan suka memperhatikan hal detil dan multitasking. Ini keunggulan perempuan dibanding pria, namun jangan sampai terjebak pada micro-managing. “Karena, leader perlu mendelegasikan tugas pada staf berikut solusi teknisnya. Otherwise, akan overwhelmed karena semua dikerjakan sendiri,” tambahnya.

Selain itu, ia memaparkan, perempuan atau laki-laki harus memperhatikan anggotanya. Jika anggotanya mayoritas laki-laki, kenali dan sesuaikan gaya kepemimpinan kita supaya efektif. “Pria cenderung direct. Hindari penggunaan asumsi dia tahu tanpa kita beritahu,” tegasnya, yang disambut tawa oleh para peserta.

Menutup presentasinya, Denni mengatakan bahwa apa yang leader lakukan adalah yang matters; bukan apa yang dikatakan atau posisinya dalam suatu hirarki. Hanya ketika seseorang melakukan leadership action, pada saat itulah kepemimpinannya menjadi nyata.

Seminar yang diadakan dalam rangka Kongres ISMEI XIV 2018 ini juga menghadirkan narasumber antara lain pendiri PT Dua Putera Utama Makmur Tbk Witjaksono, Ketua HIPMI Bahlil Lahadalia, staf ahli Bidang Politik Kementerian Pemuda dan Olah Raga Yuni Poerwati, serta alumni ISMEI Dicky Arianto Padmadipoera.dp3

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close