Pilkada

Pilkada Purwakarta 2018, Straktaindo: Pertarungan Program Jadi Penentu Kemenangan

Perhelatan Pilkada Purwakarta 2018 akan digelar beberapa bulan ke depan. Namun demikian, para bakal calon bupati sudah bergerilya di darat dan udara.

Peneliti dan pengamat politik Octarina Soebardjo dari kantor lembaga survei Stratakindo Research & Consulting menyampaikan, kondisi ini membawa suasana menjadi semarak. hanya saja yang kurang dari hingar bingar pesta demokrasi ini adalah pertarungan ide, gagasan, program dan solusi atas persoalan di Purwakarta terutama menyangkut kesejahteraan warga.

Octarina menjelaskan, tidak ada daerah di Indonesia ini yang tidak punya kelemahan, yang tidak punya masalah, demikian juga Purwakarta. Jika dilihat dari sisi capaian indeks pembangunan manusia saja sudah dapat dilihat secara kasat mata bahwa di daerah ini masih banyak masalah.

“Adalah nyata bahwa IPM atau indeks pembangunan manusia Kabupaten Purwakarta berada di bawah rata-rata nasional dan di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat. Apa itu bukan masalah?” tanyanya saat dihubungi, Sabtu (10/2).

Octarina juga menjelaskan temuan survei lembaganya yang digelar dua bulan yang lalu, dimana masalah paling menonjol yang dikeluhkan responden adalah soal ekonomi yang sulit, susah dapat pekerjaan termasuk soal transparansi dan korupsi.

Temuan paling menarik dari survei Stratakindo di Purwakarta adalah peluang istri incumbent ternyata tidak terlalu besar. “Untuk ukuran berkuasa selama lima belas tahun, lima tahun jadi wakil bupati dan sepuluh tahun jadi bupati, raihan elektabilitas istri bupati bisa dibilang kecil. Ini artinya peluang challanger atau penantang cukup terbuka” ujarnya.

Octarina menyatakan ketiga pasangan calon yang ada akan punya peluang jadi kepala dan wakil kepala daerah. Itu akan bergantung kepada pergerakan kampanye mereka. Siapa yang mampu membangun jaringan pemenangan sampai ke TPS dan bisa menjawab persoalan warga yang paling urgen, artinya adu program, maka akan dipilih.

Octarina menilai baik Ane Ratna, Padil Karsoma maupun Zainal Arifin sama-sama berpeluang menang. “Sebenarnya diantara ketiga cakada itu, Padil Karsoma punya modal lebih baik, yakni pengalaman dalam birokrasi. Jika ini dikapitalisasi, bisa jadi titik unggul,” pungkasnya. (ind)

Tags

Artikel Terkait

Close
Close