PDI PerjuanganPilgub Sumsel 2018

Pilkada Sumsel 2018, Pengamat: PDI Perjuangan Tidak Mungkin Mengeluarkan Dua Rekom Di Satu Daerah

Jakarta – Setelah lengkapnya partai pengusung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Herman Deru – Mawardi Yahya, kini perhatian publik tertuju pada calon-calon yang masih jomblo. Spekulasi politik menjadi liar karena waktu yang tersisa tinggal sedikit. Muncul pertanyaan apakah para kandidat tersisa bisa punya pasangan tepat waktu?

Persoalan siapa pendamping dan pada posisi apa seseorang akan maju dalam pilkada, bukanlah perkara gampang. Hal itu berkait juga dengan perencanaan politik seorang kandidat. Apakah ikut pilkada memakai perencanaan atau mengalir mengikuti arah angin. Bagaimana bisa mengukur kekuatan jika pendamping saja tidak siap atau malah masih dicari. Bagaimana bisa memenangkan kontestasi jika negosiasi menentukan pendamping saja susahnya setengah mati. Ukuran kematangan berpolitik seorang tokoh akan terlihat dalam hal penentuan pendamping ini. Politik dagang sapi bisa saja terjadi jika proses penentuan pendamping calon gubernur menjadi begitu rumit, kalau sudah begitu kualitas demokrasi akan tercela dan pilkada Jadi cemar karena ada deal-deal politik sejak pra-pendaftaran.

Pengamat politik dari Lembaga Survei Strategi dan Taktik Indonesia (Stratakindo) Octarina Soebardjo menilai, belum tercapainya kesepakatan pendamping Dodi Reza Alex bisa jadi karena menunggu sinyal dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Puteri. Sebagai partai pemenang pemilu tentu tidak elok jika calon dari PDI Perjuangan menjadi orang nomor dua. Belum lagi posisi partai dalam survei selalu yang tertinggi elektabilitasnya. Harga diri partai itu sangat penting, apalagi kader PDI Perjuangan di Sumsel itu banyak. Mereka juga bisa maju sendiri. Bukan tidak mungkin DPP menurunkan pasangan calon dua-duanya dari kader partai sendiri, sebagai pasangan cagub dan cawagub, mereka bisa melakukannya. “Nah karena menunggu ingin wakilnya dari PDI Perjuangan inilah yang membuat Dodi Reza masih sendirian,” ujarnya Octarina kepada wartawan di Jakarta, Minggu, 24 Desember 2017.

Octarina juga melihat posisi Ishak Mekki yang mirip dengan Dodi Reza. Jika benar isu Ishak ingin berpasangan dengan Eddy Santana Putra atau ESP, maka pasti hal itu tidak mudah. ESP jelas kader PDI Perjuangan, tidak mungkin turun dua restu pada dua kader di daerah yang sama. “Bisa saja Ishak Mekki mencari tokoh lain, namun pertimbangan soal popularitas menjadi urgen. Adakah tokoh lain yang bisa membantu mendongkrak elektabilitas dirinya yang masih asyik bertengger di posisi antara 8 sampai 12 persen,“ ujarnya.

Terkait Aswari Riva’i, Octrina menduga proses negosiasi dengan PKS masih beku. Tidak mudah nego dengan partai yang memiliki kekhasan ini. Selain harus meniti tangga birokrasi berjengjang, mereka juga seringkali minta kadernya jadi calon wakil. Jika hal itu terjadi maka Aswari harus siap mendapat pasangan yang popularitas dan elektabilitasnya belum jelas bahkan mungkin saja belum terekam survei. “Jika calon wakilnya tidak bisa mendongkrak dan membantu memberi konstribusi untuk peningkatan elektabilitasnya, Aswari harus siap-siap saja jadi pengggembira,” ujarnya.

Octarina menganalisis, jika terjadi 4 pasang calon maka pasangan Herman Deru – Mawardi Yahya akan unggul. Elektabilitas Herman Deru yang selalu tertinggi akan menjadi modal meraih kemenangan. Asal suara pendukungnya solid saja, HD-MY akan menang. Yang mengatakan jika ada 4 pasang pilkada akan seru, menurut saya kurang pas. Justru suara lawannya Herman Deru akan terpecah-pecah. “Semua akan berubah jika terjadi kecurangan terstruktur sistematis dan massif. Tapi saya menduga penyelenggara pemilu tak akan membiarkan ada kecurangan, ini soal kreadibilitas mereka,” pungkasnya. (Fied)

Tags

Artikel Terkait

Close