Pilkada

Pilkada Sumut, Pengamat: Head To Head Untungkan Posisi Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah

Pasangan yang paling populer dan mampu meyakinkan publik dengan program kerja yang sesuai kebutuhan mereka akan memenangkan kontestasi

Medan, Indopolitika.com — Pilkada Sumatera Utara (Sumut) menjadi satu-satunya pilkada yang penetapan paslonnya berlarut-larut. Itu karena kubu JR Saragih masih terus berjuang menempuh jalur hukum agar ia dan pasangannya ditetapkan sebagai peserta. Sayangnya JR Saragih, justru ditetapkan sebagai tersangka. Ia dijerat atas dugaan pemalsuan legalisasi ijazah.

Kondisi demikian memungkinkan posisi persaingan di Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) menjadi head to head. Artinya hanya tinggal pasangan calon Edy Rahmayadi-Muda Rajekshah dan pasangan calon Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus yang bertarung. Pengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman menilai kondisi head to head pada sesama penantang, memungkinkan persaingan menjadi seru. Kemenangan akan bergantung pada siapa paling populer diantara para kandidat.

“Pasangan yang paling populer dan mampu meyakinkan publik dengan program kerja yang sesuai kebutuhan mereka akan memenangkan kontestasi,” ujarnya kepada wartawan di Medan, (17/3/2018).

Direktur Konsepindo Research and Consulting ini menyatakan, untuk saat ini posisi Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah masih unggul jauh dari Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus. Itu karena Edy Rahmayadi jauh lebih dikenal di Sumut daripada Djarot. Menurutnya, posisi head to head akan menguntungkan pasangan Edy-Musa. Bahkan jika mereka mampu meningkatkan popularitas sampai 90 bahkan 100 persen, kemenangan bisa diraih. Sementara Djarot harus berjuang habis-habisan agar bisa dikenal, itu karena tingkat pengenalannya masih rendah.

“Dikenal di Jakarta belum tentu otomatis akan dikenal di daerah. Dia harus berjuang di level pengenalan dahulu,” ujarnya.

Veri menambahkan, masih tingginya undecided voters di pilgubsu menunjukan pentingnya para kontestan mensosialisasikan programnya. Adu program juga akan menarik minat kelas menengah atas untuk berpartisipasi.

“Edy-Musa dan Djarot-Sihar harus mampu menawarkan solusi atas persoalan yang terjadi pada kepemimpinan sebelumnya, terutama berkaitan dengan persoalan korupsi dan ketimpangan pembangunan,” pungkasnya. (red)

Tags

Artikel Terkait

Close
Close