Pilpres 2024: Partai Berafiliasi Ke NU Diprediksi Jadi Penggerak Poros Islam

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Gagasan mengenai perlunya partai-partai Islam bergabung dalam satu poros untuk menghadapi pilpres 2024 telah menjadi wacana menarik.

Walau banyak yang pesimis hal itu bisa terwujud namun jika pembentukannya diinisiasi oleh Gus AMI (Ahmad Muhaimin Iskandar) dimana partai yang dipimpinnya berafiliasi secara kultural ke Ormas Islam Nahdlatul Ulama, poros itu bisa saja terjadi. Itu karena soliditas suara warga NU sangat menentukan dalam kemenangan di pilpres.

Berita Lainnya

Pengamat politik Rachmayanti Kusumaningtyas dari Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI) meyampaikan hal itu saat dikontak Indopolitika, Senin (20/4).

Menurutnya, sepanjang gagasan membentuk poros Islam itu datangnya dari individu atau kelompok yang hanya ingin memanfaatkan suara umat Islam untuk kepentingan politiknya, gagasan itu akan tumbang.

Namun jika gagasan itu disambut oleh Ormas NU dan Muhammadiyah dan partai yang berafiliasi secara kultural kepada dua Ormas Islam terbesar itu mau menjadi motornya, maka poros Islam akan menjadi kekuatan yang sulit ditandingi.

“Harus diakui suara warga NU dan pemilih dari suku Jawa adalah kunci kemenangan di pilpres. Kita bisa menyaksikan hal itu pada pilpres 2019 lalu. Itu artinya pembentukan Poros Islam kalau tidak didukung NU dan tidak diinisiasi oleh parpol yang berafiliasi ke NU, akan sulit terwujud,” ujarnya.

Rachmayanti melanjutkan, apabila NU bisa mengajak atau mau bersama-sama Mihammadiyah ikut mendukung poros ini, pasti akan ciamik. Teknisnya tentu saja PKB, PPP dan PAN sebagai partai yang mempunyai hubungan kultural dengan kedua ormas itu yang bergerak.

Dalam konteks itu peran tokoh seperti Gus AMI jadi sangat menentukan. Kalau dia mau turun dan mengajak PPP dan PAN kemudian PKS untuk membentuk poros Islam maka satu kekuatan besar dalam politik akan berdiri kokoh.

“Persoalannya apakah Gus AMI mau? Apakah PKB mau jadi inisiator atau mau menerima pinangan partai Islam lain untuk membentuknya. Kita semua tahu bahwa persaingan sesama partai Islam ini cukup sengit dan berbau perbedaan mazhab dalam fiqih, jadi memang tidak mudah,” ujarnya.

Rachmayanti mengingatkan, suara umat Islam di Indonesia itu cukup banyak dimana selalu terbagi dalam tiga ceruk besar yakni ceruk Islam Tradisionalis yang diwakili Ormas NU dan berwujud partainya dalam PKB dan PPP. Lalu ceruk Islam Modernis yang berwujud partainya dalam PAN, PKS dan PBB.

Diketahui perolehan suara partai Islam pada pemilu legislatif 2019 lalu adalah sebesar 30,05 persen atau setara 42.059.378 yang terdiri dari suara Partai PKB: 13.570.097 (9,69 persen), PKS: 11.493.663 (8,21 persen), PAN: 9.572.623 (6,84 persen), PPP: 6.323.147 (4,52 persen), PBB: 1.099.848 (0,79 persen).(red)

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *