AnalisisCapres

Pilpres dan Lonceng Peringatan Korupsi

Indopolitika.com – Salah satu agenda yang harus diusung capres dan cawapres 2014 adalah upaya pemberantasan korupsi. Agenda ini penting mengingat tingkat korupsi di Indonesia sedang berada di titik nadir.

Transparency Internasional (TI) pada akhir Desember 2013 lalu merilis hasil survei tentang situasi korupsi di 177 negara. Yang mengejutkan, dari jumlah itu, Indonesia menduduki peringkat 64 negara paling korup di dunia.

Kenyataan tersebut sekaligus menjadi lonceng peringatan bagi bangsa Indonesia agar semakin gigih melawan korupsi. Semua elemen harus serentak menyatakan “perang” terhadap tindakan extra ordinary crime itu.

“Kejahatan satu ini menjadi momok dan ancaman serius bagi pertahanan negara,” kata Kepala Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada Zainal Arifin Mokhtar, Senin (5/4).

Kejahatan korupsi di negeri ini begitu kronis. Fenomena korupsi menjalar ke semua ranting pemerintahan mulai pusat sampai daerah. Korupsi telah merasuki lingkaran sistem serta merusak tatanan lembaga pemerintahan.

Tak hanya Antikorupsi

Di tengah kondisi semacam itu, tak dapat disangkal, Indonesia butuh pemimpin yang anti terhadap korupsi. Pemimpin dengan kepribadian bersih, tegas serta berani mengatakan “tidak” pada korupsi.

Namun demikian, untuk saat ini kepribadian saja dirasa belum cukup. Sebab kepribadian tidak menunjukkan kekuatan (force) dalam memberantas korupsi. Yang paling dibutuhkan adalah hadirnya pemimpin yang tangguh serta punya tipikal kepemimpinan yang kuat (firm leadership).

Tipikal kepemimpinan semacam itu tak bisa ditemui dari seseorang yang hanya teriak antikorupsi. Juga tak bisa didapatkan dari seseorang lihai merangkai seribu janji. Pengalamanlah satu-satunya kunci yang menjadi penunjuk jalan.

“Karena itu, pemimpin yang akan datang harus terbukti sebagai pemberantas korupsi,” kata Zainal.

Jokowi-Abraham Samad

Dari semua capres yang ada (Jokowi, Aburizal Bakrie, Prabowo) belum ada satu pun yang berpengalaman memberantas korupsi. Semua capres baru sampai pada level anti korupsi.

Karenanya, untuk mencapai level pemimpin yang benar-benar dibutuhkan Indonesia, capres disarankan menggandeng cawapres yang sudah terbukti.

Marak beredar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad akan dipasangkan dengan Jokowi. Masyarakat pun mengapresiasi, meminta agar pasangan ini segera dideklarasikan.

“Abraham Samad sangat pantas mendampingi Jokowi. Pemerintahannya akan lebih profesional dan bersih dari korupsi,” kata pengamat politik Universitas Gajah Mada (UGM) Ari Dwipayana.

Ia menilai, Samad akan melengkapi kekurangan Jokowi yang dinilai bersih dan mengutamakan kerja untuk rakyat. Setidaknya ada dua alasan.

Pertama, kata dia, Samad akan menguatkan pemerintahan dari sisi non-goverment organization dari pegiat antirasuah di seluruh Indonesia. Kedua, Samad dapat melakukan pengawasan penggunaan anggaran yang rentan alami kebocoran.

“Samad tegas, fokus menciptakan pemerintahan yang bersih dari korupsi. Sehingga tidak ada lagi omongan uang rakyat dicuri,” tandasnya. (mhl/red/ind)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close