INDOPOLITIKA.COM – Polresta Bandara Soekarno-Hatta berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terhadap 9 calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Para korban diamankan saat hendak diberangkatkan ke negara Serbia secara ilegal. Senin (25/3/2024).

Wakapolresta Bandara Soekarno Hatta, AKBP Ronald F.C Sipayung mengatakan pengungkapan kasus bermula dari informasi adanya keberangkatan 10 WNI ke Negara Malaysia dengan tujuan akhirnya ke Serbia untuk bekerja secara non prosedural melalui Terminal 3 Keberangkatan Internasional Bandara Soetta. Rencananya calon PMI itu berangkat menggunakan pesawat TransNusa (8B679) dengan rute Jakarta (CGK)-Kuala Lumpur (KUL) pada Minggu, 17 Maret 2024 sekira jam 15.10 WIB.

“Kami lalu mendatangi kantor BPM dan mendapati 10 WNI atas nama berinisial MH, AY, YA, AAS, IWB, A, DGM, MY, S dan FP,”ungkap Ronald, Minggu (24/3).

Dari hasil pemeriksaan, satu di antara sembilan orang yang diamankan yakni FP (40) merupakan bagian dari sindikat penyalur PMI ilegal. FP bertugas mengantarkan para korban hingga tujuan ke Negara Serbia.

“Jadi kalau hasil keterangan FP tugasnya untuk mendampingi keberangkatan calon pekerja migran non-prosedural untuk sampai ke negara tujuan. Dari hasil pekerjaan FP rencananya yang akan menerima bayaran antara Rp 2-5 juta per orang,”ucapnya.

Dari pengungkapan kasus tersebut, pihaknya berhasil menangkap dua pelaku lainnya yang berinisial J dan WBP. Keduanya memiliki peran yang berbeda- beda.

“Modus operandi yang dilakukan para pelaku yaitu mengimingi pekerjaan kepada 9 korban untuk kemudian diberikan pekerjaan tetap di Serbia,”ucapnya.

“Kesembilan CPMI itu dijanjikan gaji sebesar 7 juta rupiah hingga 20 juta rupiah per bulan oleh terduga pelaku J untuk bekerja di pabrik kayu yang berada di Serbia,”sambungnya.

Menurutnya, pelaku mendapatkan sejumlah uang yang diperoleh dari para korban dengan menjanjikan ke 9 CPMI tersebut dapat bekerja di Serbia.

“Rata-rata 9 CPMI dimintai biaya proses keberangkatan ke Serbia untuk bekerja sebesar 60 juta hingga 75 juta rupiah dan sudah dibayarkan ke pelaku J,”ucapnya.

Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta, Kompol Reza Pahlevi mengatakan modus operandi para pelaku dengan menyamarkan para korban seakan-akan hendak melakukan kunjungan wisata.

“Untuk lebih memalsukan aksinya pelaku juga memodifikasi rencana perjalanan yang harusnya melakukan direct flight ke negara Serbia namun pelaku mengalihkan destinasi untuk transit di 2 negara terlebih dahulu. Negara pertama Malaysia di mana para pelaku tidak harus menyiapkan visa,” ujarnya.

“Selanjutnya pelaku menempatkan para korban di salah satu penginapan di Kuala Lumpur. Setelah di sana pelaku akan menerbangkan para korban ke negara destinasi transit kedua yaitu Turki. Dari Turki kemudian para korban akan diselundupkan ke negara Serbia,” sambungnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 83 Jo Pasal 81 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 15 miliar.(Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com