Internasional

Politik Indonesia Sejalan Dengan Wasatiyyah dan Pancasila

Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra (tengah) dalam konferensi pers WPF ke-7 di Hotel Sultan Jakarta, Rabu 15 Agustus 2018. (Foto: Marcheilla Ariesta)

Jakarta: Sejak awal berdiri, Indonesia sudah menganut sistem demokrasi dalam politik dan pemerintahan. Hal ini dikarenakan politik Indonesia sejalan dengan konsep wasatiyyah dalam agama Islam.

Demikian disampaikan mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, yang menilai hal tersebut sebagai kekhasan politik Indonesia. 

"Aktualisasi dalam bidang politik adalah adopsi Pancasila, penerimaan Pancasila sebagai dasar negara, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim," kata dia, dalam jumpa pers di acara World Peace Forum (WPF) ke-7 di Hotel Sultan Jakarta, Rabu 15 Agustus 2018.

Menurut dia, Pancasila sangat bersahabat dengan semua agama, terutama di sila pertama, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Selain itu, pengembangan Wasatiyyah di Indonesia juga disebut Azyumardi terbilang baik.

Azyumardi menambahkan dalam berdemokrasi harus ada kontekstualisasi dan pribumisasi. "Sebab jika tidak ada keduanya, demokrasi bisa dicurigai impor dari Amerika Serikat atau negara-negara Barat sehingga terjadi resistansi penolakan demokrasi," ungkap dia.

Namun, lanjut Azyumardi, di Indonesia selalu ada kontekstualisasi demokrasi sehingga tidak dicurigai 'barang impor.' Menurutnya, demokrasi sudah menjadi bagian integral dalam politik Indonesia.

Tak hanya Azyumardi, Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Alwi Shihab, mengatakan konsep jalan tengah sejalan dengan ideologi Indonesia, Pancasila. Karena itulah, ucap Alwi, Pancasila diminati negara-negara lain.

Alwi menambahkan, seharusnya masyarakat Indonesia jeli melihat masuknya ideologi baru yang menggerogoti persatuan Indonesia. Dia mengatakan kelompok atau organisasi yang mengatasnamakan Islam, namun mengkafirkan orang Islam sendiri sangat berbahaya.
 
Pernah menjadi Menteri Luar Negeri RI, Alwi Shihab mengatakan persatuan adalah national interest atau kepentingan nasional, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan harga mati.
 
"Dan Pancasila merupakan value dari semua agama, sama sekali tidak bertentangan, jadi kalau ada kelompok baru datang menganggap Pancasila itu tidak islami, sangat tidak benar," tegas dia.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close