Politisi PSI Sebut Anies Hamburkan Uang Rp 4 Miliar untuk Pengadaan Toa Cegah Banjir

  • Whatsapp
Poltisi PSI Anthony Winza Prabowo

INDOPOLITIKA.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Gubernur Anies Baswedan akan menganggarkan sebesar Rp 4 miliar untuk pengadaan toa atau pengeras suara untuk memperkuat sistem peringatan dini banjir.

Menanggapi hal ini, anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, Anthony Winza mengatakan pengadaan toa tersebut sengaja untuk mengalihkan perhatian mayarakat dari upaya pencegahan banjir.

Baca juga:

Dikutip dari kanal YouTube KompasTV, Anthony mengatakan, pengadaan toa atau pengeras suara akan percuma jika tidak didukung dengan sumber daya manusianya atau SDM.

“Kita lihat begini, mau sistemnya kembali ke zaman perang pun atau mau sistemnya semutakhir apapun, tapi permasalahan di sini adalah SDMnya. Kalau tidak dikelola dengan smart (pintar), se-smart apapun alatnya maka itu akan menjadi suatu kegagalan,” katanya.

Anthony kemudian menyindir soal alat pompa Pemprov DKI yang berhenti beroperasi karena alasan diistirahatkan.

“Sebagai contoh, jangan sampai nanti begitu kita punya banyak toa, dianggarkan, nanti dikatakan begitu saat banjir, maaf toanya sedang diistirahatkan, lalu tidak digunakan. Seperti waktu itu katanya pompa diistirahatkan, itu sangat konyol,” sindirnya.

Ia menyayangkan pompa yang seharusnya dapat berfungsi maksimal saat banjir datang justru mengalami kerusakan. “Dikatakan bahwa ada pompa-pompa yang terendam, bagaimana caranya pompa dibuat kurang tinggi, ini kan masalah desain,” lanjut Anthony.

Anthony menjelaskan toa tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap sistem peringatan dini banjir DKI Jakarta.

“Kalau memang tujuannya untuk mencegah banjir tidak, tapi ini sifatnya hanya complementary saja. Memberi peringatan, kalau dibilang efektif tentu tidak, kalau untuk satu Jakarta modalnya hanya toa tentu tidak. Sekarang masalahnya saya enggak mau terjebak di masalah toa saja,” imbuhnya.

Anthony menduga apa yang dilakukan oleh Pemprov DKI membuat anggaran untuk pengadaan toa, dilakukan untuk mengalihkan perhatian masyarakat soal langkah pencegahan banjir di Jakarta.

“Ini seakan-akan ada pengaburan isu bahwa masalahnya adalah peringatan dini. Ini pencegahan dulu yang jauh lebih penting,” lanjut Anthony.

Sebelumnya, Anies memerintahkan pihak kelurahan berkeliling di kelurahannya untuk memberikan peringatan dini terjadinya banjir kepada masyarakat menggunakan pengeras suara dan sirine. Peringatan dini tersebut diberlakukan setelah Pemprov DKI Jakarta mengevaluasi prosedur peringatan dini yang selama ini diberlakukan.

“Salah satu hal yang akan diterapkan baru, bila ada kabar (akan banjir), maka pemberitahuannya akan langsung ke warga,” kata Anies

“Jadi kelurahan bukan ke RW, RT, tapi langsung ke masyarakat berkeliling dengan membawa toa (pengeras suara) untuk memberitahu semuanya, termasuk sirine,” ujarnya.

Senada, BPBD Dki berencana membeli enam set perangkat pengeras suara canggih untuk memperkuat sistem peringatan dini.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapudatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) M. Ridwan menjelaskan, pengeras suara yang memiliki nama Disaster Warning System (DWS) nantinya akan tergabung dalam sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) BPBD DKI.

Ia mengatakan alat ini diperlukan agar informasi dapat tersampaikan ke warga dengan baik. “Kalau tambah pakai toa kan akan menjadi lebih bagus untuk melengkapi informasi ke warga,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (15/1/2020).

Ridwan mengatakan alat-alat tersebut nantinya akan dipasang di daerah-daerah rawan banjir.

“Nantinya akan dipasang di Tegal Alur, Rawajati, Makasar, Jati Padang, Kedoya Selatan, dan Cililitan,” katanya.

Pengeras suara atau toa tersebut nantinya akan menggunakan dana sebesar Rp 4 miliar yang berasal dari APBD 2020.[ab]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *