Polres Tersangkakan Mahasiswi UIN Yang Tewas, Dema: Semua Mahasiswa Bisa Marah

  • Whatsapp
Ketua Dema UIN Syarif HIdayatullah Jakarta Sultan Rivandi

INDOPOLITIKA.COM- Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sultan Rivandi meminta Polres Tangsel harus adil dalam proses pemeriksaan kasus kecelakaan yang menewaskan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Niswatul Umma.

“Saya cukup aneh ketika mengetahui hasil pemeriksaan yang menetapkan adik saya (Niswatul Umma) di UIN Jakarta yang meninggal dunia menjadi tersangka. apalagi kalau sampai disebutkan karena lelalaian. Bagaimana mungkin bisa disebut lalai padahal jelas-jelas operasional truk besar melanggar undang-undang,” ujar Sultan kepada Indopolitika.com Kamis (14/11/2019).

Muat Lebih

Untuk itu dia berharap, Polres Tangerang Selatan untuk menegakkan keadilan dalam kasus kecelakaan ini.

“Jangan sampai membuat semua mahasiswa UIN Jakarta marah karena ada proses yang tidak adil dalam pemeriksaan kasus kecelakaan ini,” tandas Sultan.

Seperti diketahui, penyelidikan kasus kecelakaan Niswatul Umma telah rampung. Polisi menilai, sopir truk tak terindikasi melakukan tindak pidana dalam kecelakaan tersebut.

“Fakta di lapangan menyebutkan yang lalainya adalah pengendara motor. Jadi kendaraan korban menabrak truk yang berhenti di sisi kiri jalan, lalu korban terjatuh ke sebelah kanan, secara kebetulan melintas truk lainnya dari arah yang sama hingga tak bisa mengelak, dan akhirnya melindas korban,” kata Kepala Unit (Kanit) Kecelakaan Lalu Lintas Polres Tangsel Iptu Dhady Arsya, di Mapolres Tangsel, Rabu(13/11/2019).

Lebih lanjut Dhady mengatakan, korban sempat terseret roda truk merek Hino B 9569 CQA sekira 14 meter. Pengemudi truk, Madrais, disebutkan tak mengetahui jika korban terjatuh hingga masuk ke dalam kolong kendaraannya. Begitu mengetahui korban tewas, sang sopir memilih kabur. Meski akhirnya dia menyerahkan diri ke Mapolres Tangsel.

Terseret truk bertonase berat membuat kondisi jasad korban mengenaskan. Hal itu yang membuat pihak keluarga histeris dan mendesak kepolisian mengungkap kasus tersebut seadil-adilnya. Apalagi diketahui, operasional truk tanah pada jam-jam sibuk dianggap melanggar ketentuan.

“Setelah kita lakukan penyelidikan mendalam, kita periksa saksi-saksi, kita gelar perkara juga di TKP. Sehingga sebenarnya korban ini yang tersangka. Karena tak fokus berkendara hingga menabrak truk yang terparkir. Tapi pihak truk mau membantu secara kekeluargaan, kita mediasi, ada bantuan kepada keluarga korban,” jelas Dhady

Kecelakaan nahas itu terjadi di Jalan Graha Raya Bintaro, Pondok Aren, Tangsel, Senin 14 Oktober 2019 sekira Pukul 15.30 WIB. Saat kejadian, korban tengah mengemudikan sepeda motor Honda Scoopy berwarna merah B 6274 VNM.

Kecelakaan tragis yang menimpa mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum itu mendapat respons dari mahasiswa UIN lainnya. Sebelumnya, Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Tangerang dan Dema UIN Jakarta sudah melayangkan somasi ke Pemerintah Kota Tangsel.

Mereka meminta Walikota Airin Rachmi Diany mengevaluasi Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pengaturan Waktu Operasional Kendaraan Angkutan Barang di wilayah Kota Tangsel.

Di mana disebutkan dalam Perwal itu, bahwa jam operasional truk bertonase besar dimulai sejak pukul 21.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Problemnya kemudian, ketentuan tersebut hanya berlaku di Jalan Pahlawan Seribu, Serpong. Para mahasiswa pun mendesak, peraturan diperluas ke wilayah lainnya.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *