Polusi Udara di Jakarta Buruk Bikin Orang Stress Meningkat

  • Whatsapp
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Senin (29/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

INDOPOLITIKA – Jakarta masih menjadi kota dengan kualitas udara tidak sehat berdasar situs penyedia data polusi udara www.airvisual.com. Namun, Bekasi, Jawa Barat kualitas udaranya jauh lebih buruk ketimbang Jakarta.

Data AirVisual pada 8.30 WIB menunjukkan kualitas udara kedua kota ditandai warna merah alias tidak sehat. Kualitas udara di Jakarta menempati angka 170 dan Bekasi di angka 186.

Baca Juga:

Sementara itu, jika dibandingan dengan kota besar dunia lainnya, Jakarta adalah kota dengan kualitas udara terburuk. Jakarta ada di atas Lahore, Pakistan (168) dan Kabul, Afghanistan (167).

Berkaitan dengan buruknya kualitas udara di Jakarta, beberapa warganet mengaku sudah mulai merasakan dampak kesehatannya.

Polusi udara memang terbukti ambil bagian dalam masalah kesehatan paru-paru, gangguan emosi, kecerdasan berpikir, dan gangguan tumbuh kembang pada anak-anak.

Selain semua dampak negatif itu, penelitian teranyar membuktikan polusi udara berhubungan dengan gangguan jiwa atau kesehatan mental.

Kesimpulan ini didapat para ahli dari Universitas Chicago sevelah menganalisis data jangka panjang dari Amerika Serikat dan Denmark.

Menurut studi yang terbit di jurnal PLOS Biology, polusi udara benar dapat meningkatkan depresi dan gangguan bipolar pada penduduk di kedua negara. “Studi kami menunjukkan, tinggal di daerah tercemar, terutama sejak awal kehidupan, akan memicu risiko gangguan mental,” ungkap ahli biologi komputasi Atif Khan, dilansir dari situs Study Finds, Senin (26/8).

“Butuh lebih banyak studi untuk menggali dampak kualitas udara di suatu lingkungan dan kontribusinya terhadap gangguan neurologis dan kejiwaan,” imbuh Atif Khan.

Memang, faktor lingkungan seperti polusi udara bukan satu-satunya pemicu seseorang menderita penyakit mental kronis seperti skizofrenia.

Namun, banyak ahli sudah berteori bahwa kondisi lingkungan tempat tinggal berperan penting terhadap tingkat keparahan dan waktu munculnya perkembangan gangguan mental.

Skizofrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Orang dengan skizofrenia tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan.

Perlu diketahui, polusi udara memiliki partikel debu kecil yang sangat halus. Partikel halus ini bisa masuk ke otak manusia, setelah dihirup melalui hidung dan paru-paru,

Dalam banyak penelitian, hewan yang terpapar udara tercemar akan menunjukkan gangguan kognitif dan gejala depresi. Untuk penelitian terbaru ini, para ahli menganalisis dua data populasi.

Data populasi pertama didapat dari klaim asuransi kesehatan AS selama 11 tahun dengan 151 juta orang. Data kedua menghimpun 1,4 juta orang yang lahir di Denmark pada 1979-2002 dan tetap tinggal di Denmark sampai usia 10 tahun.

Tingkat polusi udara di area tersebut diukur menggunakan standar kualitas udara yang ditetapkan oleh masing-masing negara. Misalnya, untuk AS, pengukuran kualitas udara EPA digunakan.

Studi ini pun mendapat tanggapan dari profesor John Ioannidis dari Stanford University. Ioannidis mengatakan, hubungan sebab akibat antara polusi udara dan gangguan mental adalah sesuatu yang menarik.

Namun, masih diperlukan lebih banyak analisis oleh banyak kalangan peneliti untuk masalah ini. Penulis studi sendiri mengakui bahwa hanya karena mereka mengamati hubungan antara polusi udara dan gangguan mental, itu tidak selalu menunjukkan penyebab.

Ke depan, mereka ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang masalah ini, untuk menentukan apakah dampak pencemaran udara pada otak sama dengan kondisi penyebab stres lainnya atau faktor luar.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *