Pemerintahan

Potensi Sagu untuk Membantu Ketahanan Pangan

JAKARTA – Sagu merupakan salah satu makanan pokok dari daerah Indonesia Timur. Namun kini sagu perlahan mulai dilupakan. Masyarakat Indonesia Timur sendiri pun kian sedikit mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok mereka. Mungkin karena nasi dianggap lebih enak dibandingkan dengan sagu. Menurunnya tingkat konsumsi sagu menyebabkan terjadinya keberlimpahan sagu di Indonesia. Itulah salah satu latar belakang persoalan yang disampaikan Masyarakat Sagu Indonesia kepada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Moeldoko menerima kunjungan audiensi dari Masyarakat Sagu Indonesia (MASSI) pada Rabu, 17 Oktober 2018. MASSI merupakan komunitas yang fokus pada kajian tentang sagu. Mereka sudah melakukan riset yang membuktikan bahwa sagu dapat membantu menopang persoalan pangan dan energi di Indonesia. Menurut riset MASSI terjadinya keberlimpahan sagu bisa dimanfaatkan sebagai salah satu potensi kekuatan pangan bagi negara Indonesia. Ini antara lain karena luas lahan sagu di Indonesia mencapai 5,5 juta hektar dari total 6,5 juta hektar luas lahan sagu di dunia. Dari total luas tersebut, 5 juta hektar berlokasi di daerah Papua.

“Kita semua mungkin sudah menyadari kekayaan alam kita akan sagu berlimpah, maka semestinya ini dijadikan sebagai peluang dan bahkan potensi serta solusi untuk persoalan ketahanan pangan,” ujar Moeldoko menanggapi hasil riset tersebut. Menyadari potensi tersebut, pemerintah pusat sudah menyadari bahwa sagu merupakan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Saat ini sudah ada Perhutani dan PT. Austindo Nusantara Jaya Tbk. yang fokus menangani bidang industri dengan bahan baku sagu. Kedua perusahaan ini mencoba mengembangkan sagu dengan mengenalkan produk yang mereka berbahan baku sagu seperti papeda instan, beras sagu, kue kering, dan masih banyak variasi produk lain.

Persoalan tidak popularnya sagu sebenarnya hanya karena lidah mayoritas orang Indonesia tidak biasa mengonsumsi sagu. Karena itu sagu harus dikemas menjadi berbagai varian produk agar masyarakat Indonesia mau mengonsumsi sagu. Persoalan sagu juga mau tak mau terkait dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia Timur. Selama ini persoalan terbesar di wilayah Timur adalah persoalan infrastruktur yang belum memadai di wilayah Timur Indonesia. “Karena itu, kini kami senang sekali dengan digenjotnya pembangunan infrastruktur di wilayah Timur. Indonesia timur memang masih membutuhkan banyak pembangunan infrastruktur,” tutur Nunik Maharani, salah satu anggota MASSI.

Di akhir pertemuan, Moledoko menegaskan bahwa persoalan sagu ini akan ditangani dan dicarikan solusinya bersama-sama. “Kantor Staf Presiden akan mencoba mempopulerkan keberadaan sagu di kalangan masyarakat Indonesia dengan menggunakan beragam cara, salah satunya adalah mengadakan festival sagu,” tegas Moeldoko. Dan tentunya acara seperti itu akan dikerjakan bersama MASSI serta kementerian/lembaga terkait sehingga dalam jangka panjang Indonesia tidak akan kekurangan pangan dengan ditopang oleh sagu.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close