Potret Keteladanan Sang Kyai Enterpreneur

  • Whatsapp

 

Oleh: KH. Kholid Khoir: Ketua Umum Jaringan Da’i Daar El-Qolam – La Tansa

Berita Lainnya

INDOPOLITIKA.COM – Tidak dapat dipungkiri apalagi dibantah bahwa berkembangpesatnya warisan pondok pesantren peninggalan Drs. K.H. Ahmad Rifa’i Arief (Pesantren Modern Daar El-Qolam, Pesantren Modern La Tansa, Pesantren Wisata Sakinah La Lahwa dan Perguruan Tinggi La Tansa Mashira) berkat mujahadah dan ikhtiar beliau dalam menerapkan proses belajar mengajar secara didaktis dan metodis.

Madrasatul Al-Mu’allimin Al-Islamiyah (MMI) yang disematkan pada nama pesantrennya merupakan bukti bahwa beliau tidak hanya mengajar dan mendidik tetapi juga membentuk karakter santri-santrinya untuk mampu mentransfer ilmu pengetahuan sebagai kiprah pengabdian dan dakwah di masyarakat.

Keberhasilan proses belajar mengajar yang diterapkan secara dedaktis dan metodis dapat dilihat dari berkembangnya Pesantren Daar El-Qolam menjadi Daar El-Qolam 1, 2, 3, dan 4, serta Pesantren La Tansa menjadi La Tansa 1, 2, 3, 4, dan 5. Selebihnya, kita saksikan menjamurnya pondok pesantren alumni yang dibangun oleh santri-santrinya di berbagai daerah terutama Pulau Jawa dan Sumatera.

Sungguh sangat wajar dan logis bila beliau menjadi potret teladan dan inspiratif di mata para santrinya. Begitu banyak inspirasi yang didapat para santrinya dengan berbagai variasi yang tidak mungkin penulis tuangkan lengkap dalam tulisan ini.

Pada kesempatan bedah buku “Kiayi Entrepreneur” karya Dr. K.H. Soleh Rosyad ini penulis hanya menyampaikan beberapa pengalaman yang penulis alami saat menjadi santri dan guru selama 13 tahun di bawah bimbingan beliau dalam perspektif dakwah.

Banyak potensi yang dapat digali dari sosok Sang Kyai termasuk kenangan indah saat bersama beliau, antara lain apresiasi dan kaderisasi.

APRESIASI
Apresiasi penghargaan sekecil apa pun akan beliau berikan kepada guru, santri, pegawai, dan keluarga besar pondok. Pemberian apresiasi inilah yang membuat beliau semakin dihargai dan dihormati. Guru, santri, pegawai dan keluarga besar pondok tunduk patuh “sam’an wa tho’atan” ikhlas menjalankan tugas yang diinstruksikan. Sebagai seorang pendidik tentunya beliau paham benar bagaimana Nabi Ibrahim, AS memberikan apresiasi kepada putranya yang secara eksplisit termuat dalam surah (As-Shofat:100-110) hingga membuat putranya tanpa reserve bersedia menjadi objek mimpinya walaupun nyawa taruhannya.

Penulis pernah diamanati beliau untuk mengelola kepanitiaan iedul adha 1989 M., dengan penuh bangga penulis terima amanat tersebut karena memang atas penunjukan langsung dari beliau dan tentunya diliputi rasa cemas takut tidak mampu menjalankan amanat tersebut, maka terkerahkanlah segala upaya dan daya, walaupun pada akhir hasilnya relatif sukses. Setelah laporan pertanggungjawaban disampaikan beliau beri kritik dan saran, pada saat yang sama beliau juga memberikan apresiasi kepada kepanitaan dengan penilaian “bil ihsan” di hadapan Dewan Guru dan para santri.

Apresiasi yang membuat segenap panitia meneteskan air mata haru bercampur bahagia dan bagi penulis apresiasi itu menjadi amunisi untuk lebih meningkatkan kualitas manajerial yang pada akhirnya penulis diberikan amanat kembali untuk Pelaksanaan JAMRAIKA (Jambore Raimuna dan Kanira) antara Pondok Alumni dan Gontor se-Jawa dan Sumatera dalam rangka Milad Daar El-Qolam ke ¼ abad.

KADERISASI

Salah satu motto yang beliau sering sampaikan berulang-ulang kali saat pembekalan santri (kuliah etiket) adalah:

“Fii ayyi ardhin tatha fa anta masulun ‘an islamiha”

Artinya: di mana kakimu berpijak, tegaknya Islam menjadi tanggung jawabmu.

Rupanya dengan motto tersebut beliau ingin tanamkan pada santri-santrinya untuk menjadi kader penerusnya saat berkiprah di masyarakat. Menjadi ikan hidup, mewarnai bukan diwarnai, kehadirannya menggenapkan bukan membuat keganjilan dan menghargai bukan minta dihargai.

Untuk mewujudkan ciata-cita luhurnya itu, beliau selenggarakan pelatihan-pelatihan bahkan mendelegasikan guru atau santri untuk mengikuti kegiatan di luar pondok seperti yang penulis rasakan menjadi delegasi Daar El-Qolam pada acara Usaha Perbaikan Gizi Keluarga Pemuka Agama se-kecamatan Balaraja, Pembangunan Kesehatan Masyrakat Desa yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Menkes RI dan Unicef, Pelatihan kepesantrenan se-Jawa barat dll.

Dari 2 metode pendidikan ini, kini kita temui Kyai Rifa’i tetap menjadi sentra inspirasi yang terus memompa kesadaran siapa pun yang pernah bertemu langsung maupub dari kisah keteladanan yang turun temurun. [dbm]

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *