CapresPilpres

Prabowo Subianto, Dari Menjual Nama Gus Dur Hingga Ancaman Pembunuhan

Indopolitika.com  Calon Presiden Prabowo Subianto punya cerita menarik dalam berurusan dengan nama almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Satu sisi, pernyataan Gus Dur beberapa tahun silam yang sempat terekam media menguntungkan Prabowo. Namun di sisi lain, politisasi terhadap pernyataan itu mengundang reaksi keras dari pihak keluarga juga kalangan Gusdurian.

Terakhir, mencuat kisah lain yang diriwayatkan oleh seseorang dalam buku Gusdur Presiden Republik Akhirat. Buku yang ditulis Muhammad Zakki tahun 2010 itu menyebutkan, Prabowo pernah mengancam Gusdur dengan 100 sniper yang siap membungkamnya selamanya.

Buku Gusdur Presiden Republik Akhirat

“Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 sniper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur,” demikian dituturkan mengutip pernyataan Prabowo Subianto yang saat itu masih menjabat Danjen Kopassus.

Prabowo memberi perintah itu kepada seseorang yang tak disebutkan identitasnya. Lantas, orang itu menyampaikannya kepada Gus Dur dan ditanggapi dengan santai. “Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan padanya, Pak Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?” kata Gus Dur seperti dikutip buku itu di halaman 17.

“Menariknya, karena Gusdur sudah meninggal. Jadi, tak bisa dikonfirmasi lagi. Ini resiko dari politisasi nama seseorang yang sudah meninggal,” kata peneliti Pusat Kajian Politik Islam dan Pancasila Habib Alatas dalam sebuah diskusi di Gedung Kopertais Tangerang Selatan, Jum’at (4/7).

Akibatnya, sambung Habib, kisah itu menjadi liar dan menimbulkan kontroversi. Kebenaran kisah menjadi milik orang-orang yang mampu memanfaatkan momentum serta mampu merebut kepercayaan penonton, pembaca atau pendengar.

“Saya tidak heran dengan spanduk Prabowo bareng Gus Dur, seolah-olah Gus Ddur dukung Prabowo. Mereka jual itu (nama Gus Dur) untuk merebut kepercayaan penonton atau pembaca,” ujarnya.

Begitu juga dengan cerita ancaman pembunuhan oleh Prabowo pada Gus Dur. Cerita ini, ucapnya, tak bisa dipandang sebelah mata apalagi dianggap fitnah belaka. “Buku itu diterbitkan 2010. Saat itu, tak ada momentum politik apa pun. Apa iya itu kampanye hitam?,” tegas Habib.

Karena itu, menurutnya, semua kisah Prabowo dengan Gus Dur menjadi absah selama masih bisa dipertanggungjawabkan, baik secara akademis maupun aturan hukum yang berlaku.

“Gusdur bilang Prabowo ikhlas ada videonya, Prabowo dibilang mau bunuh Gusdur juga ada jejaknya. Kalau pun keluarga Gus Dur dan Gusdurian bereaksi keras atas Prabowo juga gak apapa. Ini kan tidak hanya soal sejarah, tapi juga kaitan antara Prabowo yang masih hidup dengan Gus Dur yang sudah meninggal,” urainya.

Ia menggarisbawahi bahwa pada dasarnya semua kontroversi itu berpangkal pada politisasi nama seseorang.

“Politisasi nama ini yang bikin heboh,” tandasnya. (ind)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close