INDOPOLITIKA – Dalam beberapa waktu terakhir, Presiden Prabowo Subianto kerap tampil memberikan tanggapan langsung terhadap berbagai isu yang sejatinya tidak strategis dan tidak mendesak.

Alih-alih meredam polemik, pernyataan-pernyataan spontan Presiden Prabowo Subianto tersebut justru kerap menjadi bahan perbincangan publik, memantik kontroversi baru, dan memperpanjang siklus isu yang seharusnya bisa berhenti di level wacana pinggiran.

Pertanyaan pun muncul secara wajar: ke mana peran tim komunikasi presiden?

Presiden Bukan Sekadar Tokoh, Tapi Institusi

Seorang presiden bukan hanya individu dengan pandangan pribadi, melainkan simbol dan institusi negara. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa bobot politik, ekonomi, sosial, bahkan psikologis bagi publik dan pasar.

Karena itu, dalam tradisi kenegaraan modern, tidak semua hal layak ditanggapi langsung oleh kepala negara—terlebih hal-hal remeh, spekulatif, atau bersifat sensasional.

Ketika presiden ikut masuk ke isu-isu kecil, yang terjadi justru adalah inflasi makna: sesuatu yang seharusnya tidak penting menjadi tampak penting hanya karena ditanggapi oleh orang nomor satu di republik ini.

Kegagalan Manajemen Isu

Di sinilah peran tim komunikasi seharusnya bekerja. Tim komunikasi presiden bukan sekadar humas atau tukang rilis berita, melainkan penjaga gerbang narasi negara.

Mereka bertugas menyaring: Isu mana yang perlu ditanggapi presiden; Isu mana yang cukup dijawab oleh menteri atau juru bicara; Dan isu mana yang justru lebih baik dibiarkan mati dengan sendirinya.

Ketika presiden terlalu sering bicara langsung menanggapi hal-hal remeh, ada dua kemungkinan: pertama, tim komunikasinya tidak bekerja efektif; atau kedua, presiden memilih mengabaikan mekanisme penyaringan tersebut. Keduanya sama-sama berbahaya bagi kualitas komunikasi pemerintahan.

Dari Pemimpin Strategis Menjadi Reaktif

Masalah yang lebih serius bukan sekadar soal citra, tetapi pergeseran gaya kepemimpinan. Presiden yang ideal berbicara tentang arah besar bangsa: ekonomi, pertahanan, pangan, energi, pendidikan, dan keadilan sosial.

Ketika ruang publik dipenuhi oleh komentar presiden tentang isu-isu kecil, publik kehilangan fokus terhadap agenda strategis yang sebenarnya jauh lebih menentukan masa depan negara.

Presiden yang terlalu reaktif berisiko terlihat sibuk merespons, bukan memimpin. Padahal, kepemimpinan sejati justru tampak dari kemampuan menentukan apa yang layak dibicarakan—dan apa yang tidak.

Diam Juga Bagian dari Kepemimpinan

Dalam politik tingkat tinggi, diam bukan kelemahan. Diam sering kali adalah strategi. Banyak isu hanya hidup karena diberi oksigen perhatian. Ketika presiden ikut berbicara, isu tersebut otomatis naik kelas menjadi isu nasional.

Seorang presiden perlu menyadari bahwa tidak semua pertanyaan publik harus dijawab olehnya, dan tidak semua kegaduhan harus direspons dari Istana.

Publik berharap Presiden Prabowo tampil sebagai negarawan—tenang, strategis, dan berjarak dari hiruk-pikuk remeh-temeh. Untuk itu, pembenahan serius dalam manajemen komunikasi presiden menjadi keharusan, bukan pilihan.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini bukan presiden yang paling sering berbicara, tetapi presiden yang paling tepat memilih kapan harus bicara. (Tim Redaksi)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com