Presiden Iran: Teheran Sekarang Meningkatkan Produksi Uranium Dibanding 2015

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Presiden Hassan Rouhani mengatakan Iran sekarang mengaya lebih banyak uranium dibanding saat ditandatanganinya ‘pakta nuklir’ pada 2015 silam.

“Hari ini, pengayaan [uranium] dilakukan lebih banyak dari waktu itu [sebelum kesepakatan nuklir tercapai] dan kami tidak berpangku tangan. Jika mereka (negara lain) mengurangi komitmen mereka, kami juga melakukannya,” ungkap Rouhani, mengutip presstv.com, Jumat (17/1/2020).

Baca juga:

Dia mengatakan, ketika Presiden AS Donald Trump memilih untuk menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir multilateral, Iran tetap sabar dan menolak untuk melakukan “kesalahan” yang sama. Iran meminta negara-negara yang tersisa dari ‘pakta nuklir’ tersebut untuk tidak menghiraukan AS yang menarik diri.

“Jika mereka membiarkan AS keluar begitu saja, kami akan ikut Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA/ kesepakatan nuklir bersama) dan jika mereka tidak melakukannya (ikut AS tarik diri), kami akan kurangi komitmen kita (mengaya uranium) lebih banyak, ” kata Rouhani.

Rouhani mengatakan Iran tetap berpegang pada “kebijakan yang tepat dan melakukan hal yang benar,” mendorong seluruh dunia, bahkan negara-negara Eropa  dan teman-teman Trump sendiri untuk mengutuk tindakan presiden AS yang menarik diri dari perjanjian tersebut, sebagai sesuatu yang “salah.”

Presiden Iran menambahkan bahwa Teheran membuktikan dengan JCPOA bahwa mereka mencari interaksi dengan dunia. Rouhani sekali lagi mengecam Presiden AS karena melanggar kesepakatan dan secara sepihak menariknya. Rouhani mengatakan perilaku Trump yang “tidak dapat diprediksi” telah menyebabkan masalah tidak hanya bagi Iran, tetapi juga seluruh dunia.

Pernyataan Rouhani muncul setelah The Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Trump mengancam untuk mengenakan tarif 25 persen pada impor mobil Eropa jika ketiganya,  yang dikenal sebagai EU3 atau E3 (Perancis, Inggris dan Jerman), menolak untuk secara resmi menuduh Iran melanggar ‘kesepakatan bersama’ Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *