Proses Pemberian Suaka di Korsel Dinilai Buruk

  • Whatsapp
Sejumlah aktivis di Seoul, 18 Juli 2018, memprotes proses pemberian suaka oleh Korsel kepada pengungsi asal asal Timur Tengah. (Foto: Yonhap)

Seoul: Seorang warga asal Mesir melarikan diri dari penindasan politik di negaranya ke Korea Selatan. Ia mengaku kesal bahwa terjemahan wawancara permohonan suaka dari bahasa Mesir ke bahasa Korea berbeda dari yang diucapkannya.

Transkrip itu, diunggah daring oleh Center for Refugee Rights (CRR), menyebutkan bahwa pria Mesir itu datang ke Negeri Ginseng untuk bekerja dan mencari uang serta tidak takut dipersekusi bila sewaktu-waktu harus pulang ke Mesir. 

Baca Juga:

Seperti dikutip dari UPI, Jumat 27 Juli 2018, permohonan suaka pria itu pun ditolak. Kesal karena terjemahannya berbeda, pria itu pun segera mengajukan banding.

Namun banding ditolak, karena kantor imigrasi Korsel hanya memutuskan berdasarkan transkrip wawancara yang sudah ada.

CRR menemukan 19 kasus serupa dari wawancara permohonan suaka yang keliru diterjemahkan tahun lalu. Kelompok sipil yang berbasis di Seoul itu menemukan kasus "salah terjemahan" sering terjadi dalam wawancara terhadap mereka yang berasal dari Libya, Maroko, Sudan, dan Mesir.

Korsel menerima pencari suaka berdasarkan komitmennya terhadap Konvensi PBB tentang Pengungsi 1951, yang mendefinisikan arti dari pengungsi serta tanggung jawab negara-negara yang memberikan suaka. 

Jumlah pencari suaka ke Korsel melonjak dari 148 di tahun 2004 ke rekor tertinggi 9.942 pada 2017.

Meskipun aplikasi meningkat, peluang mendapatkan status suaka di Korsel sangat tipis. Kurang dari satu persen pencari suaka di Korsel yang berhasil mendapatkan status pengungsi. 

Pada 2017, hanya 27 diterima sebagai pengungsi, 0,4 persen dari total jumlah pelamar. Sementara 318 pencari suaka diizinkan tinggal di Korsel dengan visa kemanusiaan tanpa ada tunjangan kesejahteraan.

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *