Putri Munir, Diva Tagih Janji Jokowi

15 Tahun Kasus pembunuhan Aktivis HAM Munir
  • Whatsapp
Putri aktivis HAM, Diva Suukyi Larasati

INDOPOLITIKA – Remaja putri berusia 15 tahun bernama Diva Suukyi Larasati terlihat tenang saat peringatan 17 tahun meninggalnya pejuang HAM Munir Said Thalib. Dia adalah putri dari Munir. Ketika diwawancarai, ia tetap tenang meski membicarakan kematian ayahnya yang kasusnya tidak kunjung terang hingga saat ini.

“Saya tak mau menyalahkan Pak Jokowi,” ujar Diva ketika ditemui di kawasan, Lebak bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9).

Baca Juga:

Diva tak mengenal sosok Munir. Saat Munir dibunuh, Diva masih berusia 2 tahun. Cak Munir dibunuh tepat 15 tahun lalu dalam penerbangan Garuda Indonesia GA 974 menuju Amsterdam, Belanda. Pada 12 November 2004, Kepolisian Belanda mengumumkan hasil autopsi Munir. Hasilnya, ditemukan jejak senyawa arsenik.

Namun, tidak diketahui siapa dalang di balik pembunuhan Munir dan kenapa ia dibunuh. Harapan sempat muncul saat Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim investigasi independen atau tim pencari fakta untuk mengungkap pembunuhan di udara itu. Kendati demikian, hasil investigasi itu tidak pernah dibuka ke publik.

Saat masa kampanye Pilpres 2014, Jokowi pernah berjanji akan menuntaskan, kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk kasus Munir, jika terpilih sebagai presiden. Diva masih berharap Presiden Joko Widodo mau memenuhi janji kampanyenya.

Setelah 15 tahun berlalu sejak peristiwa naas di pesawat itu, Diva masih menyimpan harapan pemerintah mau mengungkap siapa orang yang merencanakan dan menginisasi pembunuhan ayahnya. Sosok Munir memang tidak akan pernah mengisi kehidupan Diva seperti remaja pada umumnya. Tapi ia meyakini dalang di balik pembunuhan ayahnya tetap harus dibawa ke pengadilan.

Harapan Diva yang sangat sederhana. “Pak Jokowi, tolonglah selesaikan kasus ini,” ucap Diva.
Penuntasan kasus Munir Sejumlah upaya pengungkapan telah dilakukan untuk mencari pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Munir. Faktanya, hingga Kapolri berganti tujuh kali dari Jenderal Da’i Bachtiar hingga Jenderal Tito Karnavian, banyak pihak menduga dalang di balik pembunuhan Munir masih berkeliaran bebas.

Proses hukum terhadap orang yang dianggap terlibat dalam pembunuhan Munir memang telah dilakukan. Pengadilan telah memberi vonis 14 tahun penjara kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, yang saat itu merupakan pilot Garuda Indonesia. Vonis itu juga telah menjalani berbagai macam proses tingkatan peradilan.

Selain itu, pengadilan juga memvonis 1 tahun penjara kepada Direktur Utama Garuda Indonesia saat itu, Indra Setiawan. Dia dianggap menempatkan Pollycarpus di penerbangan itu. Sejumlah fakta persidangan bahkan menyebut adanya dugaan keterlibatan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pembunuhan ini. Akan tetapi, tidak ada petinggi BIN yang dinilai bersalah oleh pengadilan. Pada 13 Desember 2008, mantan Deputi V BIN Mayjen Purn Muchdi Purwoprandjono yang menjadi terdakwa dalam kasus ini divonis bebas dari segala dakwaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *