Rakor Ekonomi Perwakilan RI se-Eropa dibuka di Swiss

  • Whatsapp
?Rakor Ekonomi ke-2 Perwakilan RI se-Eropa di Bern, Swiss, 24-25 Juli 2018. (Foto: KBRI Bern)

Bern: Kondisi perekonomian global diwarnai ketidakpastian di tengah perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, isi Brexit, meningkatnya proteksionimse, dan skeptimisme Eropa. 

Perkembangan global yang serba tidak menentu ini menuntut terobosan baru dalam diplomasi ekonomi. 

Muat Lebih

Hal ini mengemuka dalam pembukaan Rapat Koordinasi Ekonomi yang diikuti sekitar 40  orang pejabat Fungsi Ekonomi dan Atase Perdagangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) se-wilayah Eropa di Kota Bern, Swiss, 24—25 Juli 2018.

Dalam pidato pembuka, Duta Besar RI untuk Swiss, Muliaman Hadad, menyatakan bahwa penyelenggaraan Rapat Koordinasi Ekonomi ini sangat tepat waktu di tengah hiruk pikuk kondisi perekonomian global terkini.

"Kita yang bertugas di Eropa harus tajam untuk merebut dan menciptakan peluang-peluang baru. Setiap krisis besar akan memunculkan peluang besar pula," ujar Dubes Muliaman, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id.

"Sebagaimana pada 2008, Tiongkok memanfaatkan krisis ekonomi global 2008 untuk meluaskan pengaruh melalui penyaluran bantuan terhadap negara-negara yang terpukul krisis ekonomi," lanjut dia.

Dubes Muliaman yang juga mantan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini menekankan pentingnya merevitalisasi definisi diplomasi ekonomi yang lebih dalam.
 
Revitalisasi dapat dilakukan melalui optimalisasi institusi diplomasi ekonomi, penguatan kemampuan analisis ekonomi bagi para diplomat, dan kolaborasi di antara aktor di dalam negeri untuk ekspansi bisnis Indonesia di luar negeri.


Rakor Ekonomi digelar di tengah situasi global yang serba tak pasti. (Foto: KBRI Bern)

Sementara Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, membeberkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terbanyak yang mendapatkan gugatan perdagangan di World Trade Organization (WTO) Jenewa, yaitu 47 kasus, di mana berpengaruh negatif terhadap pengembangan ekspor Indonesia. 

"Kita menang melawan Uni Eropa untuk anti-dumping measure biofuel sawit, di mana UE diminta untuk mengubah regulasi dalam delapan bulan reasonable period of time. Jika tidak terpenuhi, Indonesia bisa melakukan retaliasi terhadap produk-produk UE lainnya," ujar Dubes Hasan Kleib. 

"Sebaliknya, Indonesia kalah melawan Amerika Serikat dan New Zealand dalam gugatan perdagangan bidang holtikultura, di mana diberikan waktu delapan hingga empat belas bulan untuk menyesuaikan 18 langkah peraturan perundang-undangan. Jika tidak, maka Indonesia dapat dikenakan retaliasi kenaikan tarif hingga 500 juta USD," sebut dia.

Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa juga mendorong agar setiap Perwakilan RI memberikan masukan tentang pembahasan di masing-masing negara akreditasi, yang dapat berpotensi menghambat ekspor Indonesia sehingga dapat diangkat menjadi isu pelanggaran perdagangan di WTO. 

Rakor Ekonomi Eropa ini bertujuan sebagai landasan menguatkan koordinasi dan memetakan strategi bersama di antara Perwakilan RI di Eropa, khususnya pada bidang ekonomi.


Rakor Ekonomi ke-2 Perwakilan RI se-Eropa di Swiss. (Foto: KBRI Bern)

Acara selama dua hari ini diisi diskusi-diskusi panel perkembangan perekonomian Eropa, prospek diplomasi ekonomi Indonesia di Eropa, joint venture dan potensi mitra lokal bagi investor Eropa ke Indonesia. Selain itu, juga ada sinkronisasi program kerja sama BI London, BKPM London, dan seluruh KBRI dalam bidang perdagangan, parwisiata, dan investasi di wilayah Eropa.

Terselenggara atas kerja sama KBRI Bern, Kantor Perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) London, dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia London, acara ini juga dihadiri Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Direktur Jasa dan Kawasan BKPM, Direktur Eropa I Kementerian Luar Negeri RI, Kantor Perwakilan KADIN di Eropa, Bank Mandiri Europe Ltd, dan Bupati Kabupaten Natuna. 

Pada 2017, Rakor Ekonomi Eropa pertama kali diselenggarakan di London.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *