Nasional

Rasulullah Terapkan Islam Kebangsaan

JAKARTA – Islam Kebangsaan juga pernah diterapkan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang sukses. Sukses diberi tugas mengembangkan dakwah di seluruh dunia hanya dalam waktu 23 tahun. Padahal Muhammad saat itu sendiri. Nabi Muhammad yatim. Nabi Muhammad bukan sarjana. Nabi Muhammad tidak punya tim sukses, tidak punya baliho, apalagi Facebook. Kenapa Nabi Muhammad sukses? Karena beliau diberi bekal, konsep, buku, aturan, panduan, juklak, juknis, berupa Al Qur’an. Demikian dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) KH Musthofa Aqil Siradj, Senin (26/2/2018).

Dia menambahkan, bahwa Al Qur’an sungguh luar biasa. Sisi menakjubkan Al Qur’an itu antara lain saat tiga kali penurunan wahyu Al Qur’an pertama kali (Surat Al-Alaq, Al-Muddatsir, dan surat Al-Muzammil), tidak satu pun dari ketiga ayat itu pernah menyebut kalimat Allah. Adanya kalimat Rabbun. Ini sangat menarik.

“Kata Rabbun berarti Allah SWT menciptakan semua tanpa pandang bulu. Allah menciptakan makhluk berbagai jenis, mulai dari manusia, jin, iblis, malaikat, binatang, planet, dan lain-lain. Allah yang menciptakan, yang membuat hidup, membuat sehat dan seterusnya,” katanya.

Hal itu menunjukkan bahwa kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT memerintahkan dakwah dan memandang makhluk dari sisi Rabb. Dengan kata lain, semua makhluk harus dimuliakan. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan manusia, dan Kami tempatkan mereka di daratan dan di lautan, serta Kami berikan mereka rezeki daripada barang yang baikbaik, serta Kami lebihkan mereka daripada kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan dengan sebenar-benar kelebihan.” (QS Al-Isra’ : 70).

Tidak hanya itu, dalam ayat lain Allah SWT juga mengatakan bahwa semua makhluk di muka bumi ini diberi rizki oleh Allah, termasuk binatang melata sekalipun. “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rizkinya.” (QS. Hud [11]: 6).

Ini artinya apa, dijelaskan KH Musthofa Aqil, Nabi Muhammad SAW diutus untuk memberi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Bukan rahmatan lil muslimin, apalagi rahmatan lil nahdliyin.

Dikisahkan, pada suatu ketika Rasulullah masuk ke kompleks orang Yahudi. Ada orang tua buta berteriak-teriak kelaparan. Melihat orang tua itu, Nabi Muhammad kemudian timbul iba dan mencarikan bubur untuk orang tua Yahudi yang buta tersebut. Setelah mendapatkan bubur, Nabi lekas menyuapi orang tua itu. Anehnya, saat disuapi, orang tua itu bercerita dan menjelek-jelekkan Nabi. Meski begitu, Nabi tidak bergeming. Nabi terus menyuapi orang tua buta itu setiap hari, kurang lebih selama tiga pekan. Sampai Nabi wafat.

Setelah Nabi meninggal. Orang tua buta Yahudi itu kemudian berganti disuapi oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Namun rupanya orang tua buta itu merasa ada yang aneh. Cara menyuapi Abu Bakar tidak seperti Nabi yang sangat halus. Cara menyuapi Abu Bakar dianggap kasar. Orang tua buta itu kemudian menanyakan siapa yang biasanya menyuapi dirinya kok sangat halus dan lembut. Abu Bakar menjawab kalau yang menyuapi biasanya adalah Rasulullah SAW. Orang tua buta itu kemudian menangis tersendu-sendu. Ia sangat menyesal karena selama ia disuapi oleh Nabi selalu menjelak-jelekkan Nabi.

Akhirnya orang Yahudi tua buta itu akhirnya masuk Islam. Ia masuk Islam karena tersentuh dengan sikap dan akhlak Nabi, karena “disuapi”, bukan “dipentung”. Inilah pelajaran penting yang dapat dipetik kata KH Musthofa Aqil. Sebab, salah satu persoalan serius sekaligus menjadi tantangan keindonesiaan kita adalah banyaknya orang yang berdakwah atau menyerukan agama Islam namun dengan cara-cara yang kurang santun.

Mereka menyerukan kebaikan namun dengan cara yang kurang baik. Padahal menyerukan kebaikan harus dengan cara yang baik pula. Ingat bahwa “amar ma’ruf bil ma’ruf, nahi munkar bil ma’ruf” (menyampaikan kebaikan itu dengan kebaikan, dan mencegah kemungkaran ya harus tetap dengan kebaikan). (sm/k9)

Tags

Artikel Terkait

Close