Redam Islamofobia, Begini Isi Surat PM Pakistan untuk Pemimpin Negara Muslim Dunia

  • Whatsapp
Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Foto: Dok/Reuters

INDOPOLITIKA.COM – Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan mengajak pemimpin negara mayoritas Muslim untuk kompak meredam pertumbuhan Islamofobia yang massif belakangan ini di negara-negara non-muslim. Ajakan tersebut disampaikan Imran Khan melalui surat yang ditulisnya, kemarin.

Namun, PM Imran Khan tidak menjelaskan lebih detail kepada para pemimpin negara mana surat itu dikirim. Dalam suratnya pada Rabu (28/10/2020), Khan meminta para pemimpin negara bagian mayoritas Muslim untuk bersatu mengatasi apa yang dia sebut “gelombang pasang Islamofobia dan serangan”.

Berita Lainnya

Meskipun dia tidak secara eksplisit merujuk Prancis, Khan mengatakan “pernyataan baru-baru ini di tingkat kepemimpinan adalah cerminan dari meningkatnya Islamofobia yang menyebar di negara-negara Eropa di mana populasi Muslim yang cukup besar berada.

“Surat saya kepada para pemimpin negara Muslim untuk bertindak secara kolektif untuk melawan Islamofobia yang berkembang di negara-negara non-Muslim, khususnya negara-negara barat yang menyebabkan meningkatnya keprihatinan di antara Muslim di seluruh dunia,” ungkap Khan melalui Twitternya @ImranKhanPTI, dilihat indopolitika.com, Kamis (29/10/2020).

Surat Perdana Menteri Imran Khan

Berikut surat Perdana Menteri Imran Khan:

Assalamualaikum…

Hari ini, umat kita (Muslim) sedang dilanda kegelisahan karena mereka melihat adanya peningkatan gelombang Islamofobia, serangan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh dunia Barat, terutama Eropa.

Pernyataan baru-baru ini di tingkat kepemimpinan dan insiden penodaan Alquran adalah cerminan dari meningkatnya Islamofobia yang menyebar di negara-negara Eropa di mana populasi Muslim yang cukup besar tinggal.

Selain itu, di Eropa, masjid-masjid ditutup, hak perempuan Muslim untuk mengenakan pakaian pilihan mereka di tempat umum tidak diizinkan bahkan ketika para biarawati dan pendeta terus menunjukkan pakaian keagamaan mereka dan diskriminasi terselubung dan terang-terangan meluas terhadap Muslim yang tinggal di negara-negara itu.

Saya percaya kepemimpinan di negara-negara ini, sering bertindak diluar kendali karena kurangnya pemahaman tentang hasrat, cinta dan pengabdian yang mendalam seperti dimiliki oleh umat Islam di seluruh dunia terhadap Nabi Muhammad SAW dan kitab suci kita, Alquran.

Akibatnya, siklus aksi dan reaksi yang berbahaya mulai bergerak. Tindakan menyakitkan mengakibatkan reaksi dari umat Islam karena mereka melihat keyakinan mereka dan Nabi tercinta mereka ditargetkan, untuk tindakan diskriminatif oleh pemerintahan setempat terhadap populasi Muslim di negara tersebut, yang mengakibatkan adanya marjinalisasi dan terbukanya ruang bagi kelompok radikal sayap kanan untuk memanfaatkan situasi.

Di sisi lain, marginalisasi yang dihasilkan mengarah pada radikalisasi dan lingkaran setan ini terus menciptakan ruang gerak yang semakin luas bagi para ekstremis di semua sisi.

Dalam kondisi ini, adalah kewajiban kita sebagai pemimpin dunia Muslim untuk bersama-sama memimpin dalam memutus siklus kebencian dan ekstremisme, yang mendorong kekerasan dan bahkan kematian.

Kami, sebagai pemimpin politik Muslim, harus mengambil inisiatif untuk menyerukan diakhirinya siklus kebencian dan kekerasan ini. [Kami mendesak semua pemimpin Muslim bertindak kolektif, satu suara menjelaskan kepada kepemimpinan non-Muslim), terutama negara-negara Barat, bahwa seluruh umat Muslim memiliki penghormatan mendalam dan amat besar cintanya pada Alquran maupun Nabi Muhammad SAW. Sekarang waktunya kita semua kompak dan dan satu suara untuk mengakhiri siklus kekerasan yang melahirkan kebodohan dan kebencian ini.

Kita harus menjelaskan kepada dunia Barat bahwa sistem dan norma-norma kelompok sosial, agama dan etnis lainya di dunia ini berbeda satu sama lainnya. Bagi orang Eropa dan Yahudi, Holocaust, yang merupakan puncak pogrom Nazi, telah menyebabkan banyak orang Barat, terutama negara-negara Eropa, mengkriminalisasi tindakan kritik atau pertanyaan tentang Holocaust. Kami (Muslim) memahami dan menghormati itu.

Namun, harus ada pemahaman oleh dunia Barat untuk memberikan penghormatan yang sama kepada Muslim, yang juga telah melihat orang-orang Muslim terbunuh massal di Bosnia, Irak, Afghanistan, hingga India. Tapi, rasa sakit paling besar umat Muslim adalah ketika kita melihat serangan terhadap iman kita dan Nabi Muhammad SAW dilecehkan. Faktanya, penistaan terhadap setiap Nabi baik itu Nabi Islam, Kristen atau Yudaisme tidak dapat diterima oleh agama manapun.

Waktunya telah tiba bagi para pemimpin dunia Muslim untuk menyampaikan pesan ini dengan kejelasan dan persatuan ke seluruh dunia, terutama dunia Barat sehingga mereka bisa mengakhiri (Islamofobia dan serangan terhadap Islam, kitab suci umat islam maupun Nabi Muhammad SAW). Dunia, tidak dapat melanjutkan spiral kebencian ini, yang hanya menguntungkan agenda ekstremis di semua sisi namun menyengsarakan masyarakat yang terpolarisasi dan kekerasan.

Umat muslim sesuai keyakinannya, selalu menjunjung tinggi perdamaian dan sikap toleransi. Sehingga, merupakan tanggung jawab kita untuk menginformasikan kepada dunia tentang semangat ini dan inti dari ajaran Islam.

Semoga Anda semua selalu dalam lindungan Allah SWT.

 

 

 

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *