Relawan Vaksin AstraZeneca Meninggal, Indonesia Batal Ambil

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Seorang relawan vaksin Corona AstraZeneca dari Universitas Oxford yang tengah diuji di Brasil dilaporkan menderita komplikasi Covid-19 hingga meninggal.

Relawan tersebut merupakan dokter muda berusia 28 tahun dan bekerja di garda terdepan penanganan Corona di negeri itu.

Berita Lainnya

Hal itu diumumkan pada Rabu (21/10/2020) oleh Badan Pengawas Kesehatan Brasil Anvisa. Dikutip dari AFP, ini adalah kasus meninggal pertama terkait pengujian vaksin di seluruh dunia.

Namun setelah pengujian tim independen, dikatakan bahwa sang dokter ternyata diberi suntikan plasebo dalam pengujian itu dan bukan vaksin AstraZeneca. Pengujian vaksin pun akhirnya masih akan tetap dilakukan.

Berkaca dari kejadian tersebut, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta proses pengadaan vaksin Corona di Indonesia harus dibuat transparan.

“Semua prosesnya harus transparan. Kalau dikatakan sudah dilakukan uji klinis fase 3 di beberapa negara dan sudah ada izin penggunaan darurat, maka harus ditunjukkan hasil datanya agar mampu menjawab kekhawatiran masyarakat,” kata Netty, Kamis (22/10/2020).

Ia menilai saat ini publik mulai khawatir perihal keamanan dari vaksin Corona. Ia pun meminta pemerintah tidak memberikan vaksin yang masih ‘setengah jadi’ kepada masyarakat.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia memutuskan batal membeli 100 juta vaksin buatan perusahaan farmasi asal Inggris tersebut. Hal ini lantaran AstraZeneca tak bersedia bertanggung jawab bila terjadi kegagalan produksi vaksin corona pada pertengahan 2021. Sementara, Indonesia diminta sudah harus membayar down payment (DP) senilai US$250 juta atau setara Rp3,67 triliun.

Konfirmasi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto kepada wartawan, Kamis (22/10/2020).

“Di dalam kontrak kesepakatan (dengan AstraZeneca) mengatakan ini kan belum ada produksinya, jadi uang muka (yang dibayarkan) akan digunakan untuk membangun produksi di Thailand. Di klausul lainnya bila terjadi kegagalan dalam produksi (vaksin COVID-19) maka mereka tidak boleh disalahkan. Ya, kami tidak jadi pesan,” ungkap pria yang akrab disapa Yuri ini. [rif]

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *