Pemerintahan

Rencana Ekspansi Usaha PT RNI ke Myanmar

JAKARTA – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko didampingi Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho menerima Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) B. Didik Prasetyo dan  Diirektur Keuangan M. Yana Aditya, Selasa, 10 April 2018.

Dalam pertemuan itu Didik Prasetyo menjelaskan  soal jaringan usaha yang digeluti RNI. Dari mulai agro industri, farmasi dan alat kesehatan, distrubusi dan perdagangan, serta properti. Untuk tahun 2017, lewat 13 anak perusahaan dan total aset Rp 12 triliun, RNI berhasil berhasil meraup pendapatan Rp 5,1 triliun, dan laba bersih Rp 353 miliar.

Selain ekspansi pendirian pabrik obat ke Myanmar, BUMN ini juga mendapat mandat untuk membeli gabah dari petani dan penyaluran beras langsung ke konsumen untuk mendukung ketahanan pangan dan kestabilan harga beras.

Sementara itu, guna mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan petani, RNI mendapat penugasan khusus dari Kementerian BUMN. Salah satu lewat pilot project yang tengah digarap di Kabupaten Cianjur dan Ciamis. Yakni pembentukan Bumdes untuk dijadikan mitra. Kami membeli gabah petani, mengolah gabah menjadi beras,” ungkap Didik.

Penugasan kedua, pendistribusian beras dalam kemasan 5 kilogram pada 11 kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Timur melalui jaringan RNI yang tersebar di berbagai wilayah.  RNI bekerja  sama dengan agen pupuk, yang lantas ditambah beras dalam kemasan 5 kg, dengan merek Beras Kita.

Tujuannya menjaga kestabilan harga beras, dengan cara mendistribusikan langsung pada konsumen, ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut Kepala Staf juga menanyakan soal produksi gula dan rencana ekspansi usaha RNI ke Myanmar.

dsc_5526

Menurut Didik, dengan 6 pabrik gula yang beroperasi, diproduksi 300.000 ton gula dalam setahun, di mana tebu didapat melalui petani tebu. Ke depannya, RNI berencana tidak hanya akan memprodruksi gula, namun merambah ke industri yang  terintegrasi berbasis tebu. Semisal gula cair, etanol, pupuk. Bahkan pakan ternak, partikel board, arang, dan bio etanol.

Sementara soal ekspansi usaha farmasi dan kesehatan, PT Phapros, Tbk, anak perusahaan RNI akan mendirikan pabrik obat dengan investasi sebesar Rp 100 miliar di Myanmar. Selain itu, menurut M. Yana Aditya, yang juga Komisaris Utama PT Phapros, pemerintah Myanmar juga  yang diproduksi Phapros tanpa tender. Kami sedang folllow up dengan distributor lokal,” ungkap M. Yana.(rls)

Tags

Artikel Terkait

Close
Close