Resmi Beri Izin Starlink Elon Musk Masuk Indonesia, Begini Penjelasan Kemkominfo

Ilustrasi satelit Starlink. Foto: Aleksandr Kukharskiy/Shutterstock

INDOPOLITIKA.COM – Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO) Starlink kepada PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat).

Sebelumnya, informasi di atas diungkap oleh Menkominfo Johnny G. Plate. Di mana, perusahaan internet satelit milik Elon Musk, Starlink telah mendapatkan restu dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk beroperasi di Indonesia. Internet satelit di bawah SpaceX itu akan melayani kebutuhan Telkom Group.

Menurut Juru Bicara Kemkominfo, Dedy Permadi, Hak Labuh Satelit tersebut hanya berlaku untuk layanan backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tetap tertutup PT. TELKOM SATELIT INDONESIA, bukan untuk layanan retail pelanggan akses internet secara langsung oleh SPACE EXPLORATION TECHNOLOGIES CORP (STARLINK);

Sekadar informasi, Backhaul adalah teknologi yang memfasilitasi perpindahan data dari satu infrastruktur telekomunikasi ke telekomunikasi lainnya.

Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung penyediaan layanan broadband internet terutama selular 4G, terutama di daerah rural yang belum tersambung secara langsung dengan kabel serat optik.

“Layanan satelit Starlink hanya dapat beroperasi jika pembangunan Gateway Station – Teresterial Component untuk menerima layanan kapasitas Satelit Starlink serta pengurusan Izin Stasiun Radio (ISR) Satelit Starlink telah dirampungkan oleh Telkomsat. Sebagai pemegang eksklusif atas Hak Labuh Satelit Starlink maka Telkomsat berhak mendapatkan layanan backhaul satelit,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/6/2022).

“Operasional pemanfaatan layanan Starlink oleh Telkomsat wajib tunduk pada regulasi yang berlaku, termasuk pemenuhan kewajiban hak labuh,” tegasnya.

Lebih lanjut Dedy menyebutkan, izin hak labuh akan dievaluasi setiap tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi dan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya, Dedy menyebut, hubungan perdagangan bilateral di sektor telekomunikasi dan digital antara Indonesia dan Amerika Serikat berkembang pesat.

Di mana, kerja sama kedua negara juga mencakup rencana Indonesia untuk memiliki tiga satelit terbaru. Ketiga satelit yang dimaksud adalah:

  1. 150 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) yang diberi nama Satria (Ka-Band)
  2. 80 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) sebagai Hot Backup Satellite (Ka-band).
  3. 32 Gb High Throughput Satellite (HTS) yang dimiliki Telkomsat (C & Ku-band).

Ketiga satelit ini rencananya diluncurkan dengan roket peluncur milik SpaceX, Falcon 9, dan merupakan jenis satelit yang mengorbit di Geo stationer Orbit. [Red]


Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.