Revitalisasi Monas Dihentikan, Pohon Besar Ditanam Lagi

  • Whatsapp
Sejumlah buruh mengerjakan pembangunan Plaza Selatan Monas (ANTARA)

INDOPOLITIKA.COM – Pemprov DKI Jakarta menanam kembali sejumlah pohon besar di kawasan revitalisasi Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Penanaman ini dilakukan ketika proyek revitalisasi Monas itu dihentikan sementara.

Dari pantauan di lokasi, sedikitnya ada 10 pohon berukuran besar sedang ditanam di titik revitalisasi Monas bagian selatan. Pohon besar itu diangkat dengan sebuah crane besar setelah sebelumnya diantarkan dengan truk besar.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal ini, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yudistira Hermawan mengatakan, penanaman kembali pohon tersebut jangan ditebang kembali.

“Kalaupun ada penanaman pohon lagi, mungkin pohon itu sudah dipesan dan sampainya hari ini. Kalau pun mau ditanam, ya silakan saja, asalkan tidak ada lagi penebangan pohon yang tidak jelas. Penghijauan itu biasa,” ujar Yudistira Hermawan, di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Politisi partai Golkar ini memastikan, revitalisasi kawasan Monas masih dimoratorium, karena perizinan proyek itu belum turun dari Sekretariat Negara (Setneg) selaku Dewan Pengarah. Moratorium ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar menyelesaikan terlebih dahulu persyaratan administrasi dan perizinan revitalisasi Monas itu.

“Eksekutif dan legislatif kan sudah sepakat untuk menghentikan sementara revitalisasi Monas. Sambil Eksekutif menyelesaikan sisi administrasi dan perizinan revitalisasi Monas itu, sekaligus melakukan pemberitahuan dan sosialisasi kepada masyarakat termasuk Setneg. Nanti ke depan akan seperti apa Monas itu,” katanya.

Menurutnya, revitalisasi Monas menjadi polemik bagi masyarakat umum hingga pemerintah pusat karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak melakukan sosialisasi revitalisasi Monas dengan baik. Bahkan, katanya, DPRD DKI Jakarta pun tidak diberikan sosialisasi oleh Dinas Cipta Karya, Pertanahan dan Tata Ruang yang melakukan revitalisasi Monas itu.

“Pada 2018, sayembara revitalisasi Monas itu selesai. Tapi pelaksanaan revitalisasi Monas itu dilakukan di akhir 2019, karena katanya lelang terlambat. Ini ada rentang waktu yang cukup untuk pemerintah melakukan sosialisasi revitalisasi Monas kepada masyarakat. Bisa melalui medsos atau media massa lainnya. Ini tidak dilakukan. Bahkan, DPRD pun tidak tersosialisasi,” ungkapnya.

Kekosongan ruang komunikasi ini, lanjutnya, tidak terlepas dari masih kosongnya kursi wakil gubernur DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandiaga Uno. Dia berharap, wakil gubernur DKI Jakarta pengganti bisa segera memperbaiki cara komunikasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ke setiap elemen masyarakat.

“Ketika kita mengesahkan anggaran, kita berpikir revitalisasi Monas itu rencana tahunan sampai ketua DPRD saja kaget. Tapi kalau dia menyosialisasikannya dengan baik, dia presentasi, Monas tahun 1970an seperti ini, tahun 2019 seperti ini, tahun 2020 akan seperti ini, saya pikir baik. RTH juga akan bertambah. Tapi kita dikagetkan ketika banjir belum selesai, tiba-tiba ada penebangan pohon di Monas,” jelasnya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *