Pemerintahan

Revolusi Industri 4.0 Titik Balik Industri Gula

BOGOR – Dari sisi pasar, Indonesia mempunyai potensi  Industri Gula yang sangat besar karena memiliki permintaan supply gula yang cukup tinggi seiring dengan jumlah penduduk Indonesia yang relatif besar. Namun industri gula lokal, belum mampu melihat peluang tersebut sehingga terjadi kesenjangan antara produksi dan konsumsi gula semakin melebar dari tahun ke tahun, mencapai 4 juta ton pada 2015, sehingga diakui saat ini masih memerlukan dukungan supply gula dari luar negeri.

Fakta itu terungkap dalam ‘Seminar Nasional Daya Saing Industri Gula di Era Revolusi Industri 4.0’ yang diinisiasi Institut Pertanian Bogor dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI)  (Persero) dalam rangka mendukung percepatan industri gula dalam negeri yang digelar di Hotel Salak The Heritage Bogor,Kamis 23 Agustus 2018.

Turut hadir sebagai Keynote Speaker dalam seminar ini Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan Avanti Fontana, didampingi Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden Wahyu Widodo, Ph.D.

Ditegaskan Avanti, jika revolusi Industri 4.0 menjadi titik balik fudamental bagi perubahan Industri pada berbagai sektor, tidak terkecuali pada Industri Gula. “Era digitalisasi pada revolusi Industri 4.0, mau tidak mau membuat para pengusaha harus mampu mempersiapkan diri dengan perubahan tersebut untuk mengubah ancaman menjadi peluang dalam mengembangkan usahanya,” kata Avanti.

Pada sektor perkebunan gula, produktivitas lahan perkebunan tebu cenderung masih rendah dan stagnan, meskipun luas lahan mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 produktivitas lahan hanya 5,6 ton/hektar.

Selain itu, mayoritas kepemilikan lahan perkebunan tebu masih dikuasai oleh petani dengan lahan kecil dan skala ekonomi yang rendah, sehingga belum terlalu produktif dan konsisten dalam menghasilkan tebu sebagai supply industri gula.

Untuk itu Pemerintah menyambut baik dengan adanya kerjasama antara perusahaan dengan lembaga riset dan pendidikan dalam konteks mempercepat pertumbuhan industri gula dalam negeri.

“Diharapkan dengan adanya kerjasama penelitian dapat meningkatkan skill dan kapasitas para petani tebu sehingga mampu memperkuat pertumbuhan industri gula nasional,” urai Avanti.

Seminar Nasional diakhiri dengan penandatanganan Memorandum of Understanding antara Rektor IPB,Bapak Dr. Arif Satria dengan Direktur PT  RNI (Persero), Didik Prasetyo, untuk meningkatkan daya saing Industri Gula dalam negeri melalui kolaborasi penelitian dan pengembangan bidang teknologi Pertanian. Turut menyaksikan penandatanganan MOU tersebut Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, selaku Staf Khusus Presiden Republik Indonesia.

av1

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close