Reynhard, Predator Seks dan Pembunuh Berantai Pernah Gunakan Obat “G”…Efeknya Korban Mati

  • Whatsapp
Pemerkosa berantai Reynhard Sinaga (kiri), Pembunuh berantai Stephen Port (kanan atas) dan pengedar narkoba Gerald Matovu yang menggunakan obat G dalam setiap aksinya melumpuhkan korban.

INDOPOLITIKA.COM – Kasus yang menyeret nama mahasiswa S3 asal Indonesia, Reynhard Sinaga cukup menyita perhatian publik. Bukan saja karena korbanya yang diyakini mencapai 195 orang. Tapi juga “sihir” yang digunakan Reynhard sehingga korbannya tidak merasakan apa-apa saat diperkosa pria lulusan Universitas Indonesia itu.

Melansir pemberitaan Manchester News Evening, Senin (13/1/2020), polisi dan juri pengadilan setempat meyakini Reynhard menggunakan obat ‘G’ yang dijual hanya £ 1 per dosis, untuk membuat para korbannya yang sudah mabuk, semakin tidak sadar. Obat ini menurut kepolisian setempat, efeknya berdampak kematian. Kalaupun tidak, korban yang merasakan obat ini, selamanya akan merasakan ‘kesengsaraan’.

Baca juga:

Saat diminum, obat ini dapat menghasilkan perasaan euforia. Tetapi jika menggunakan sebanyak satu milimeter, dampaknya bisa membunuh siapapun yang menenggaknya. Tapi, jika obat ‘G’ dimasukkan ke dalam minuman beralkohol seperti wiski atau vodka, rasanya bisa hilang sepenuhnya. Atau pengguna mungkin merasakan rasa yang sedikit asin. Menggunakan obat “G”, polisi percaya bahwa pemerkosa berantai Reynhard Sinaga menggunakannya untuk melumpuhkan hingga 195 korban sebelum menyerang (memperkosa) mereka.

Menurut Detektif Inspektur Zed Ali yang menyelidikisi kasus ini mengatakan, polisi, jaksa penuntut, empat juri dan hakim semuanya yakin Reynhadr Sinaga menggunakan obat ‘G’ untuk menundukkan korban sebelum menyerang mereka dan merekam pelecehan itu. Selama persidangan pertama dilangsungkan, juri diperlihatkan cuplikan dari seorang korban yang tampak bangun dan sadar akan kondisi sekitarnya (apartemen Sinaga).

“Anda dapat melihat di kamera bahwa Sinaga memberinya suntikan yang terlihat seperti alkohol, mengambil itu dan dalam 15 menit Anda dapat melihatnya di layar korban kehilangan kesadaran,” kata Detektif Inspektur Zed Ali.

Wakil Kepala Jaksa Penuntut Ian Rushton, menjelaskan, meski orang sudah terlalu banyak minum alcohol, tetapi terkadang ada yang masih sadar juga. Namun karena Reynhard sudah memberi mereka obat ‘G’, semakin tidak sadar. “Tampaknya bagi kami bahwa perilaku para korban sedemikian rupa sehingga hanya dapat dikaitkan dengan beberapa zat yang melebihi alkohol,” katanya.

“Banyak dari kita sudah minum terlalu banyak, tetapi kita tidak merasa sedemikian rupa sehingga para korban dalam kasus ini sangat jelas. Banyak dari mereka, sebagian besar, tidak tahu apa yang terjadi sehingga tidak mencoba ke rumah sakit atau pemeriksaan pada saat itu, sehingga kemungkinan bahan bukti tidak ada bagi kita,” jelasnya.

“Tapi kesimpulan nyata yang kami dapat dan disepakati dewan juri adalah bahwa modus operandi Sinaga, menambahkan obat ‘G’ dalam minuman dan konsekuensi begitu mengerikan yang terjadi setelahnya,” tambahnya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *