Internasional

RI-Timor Leste Akan Kerja Sama Pengelolaan Ekosistem Perairan

Proyek ini akan mengutamakan kolaborasi untuk melindungi dan memperkaya keanekaragaman hayati. (Foto:FAO)

Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Timor-Leste bertemu di Jakarta selama tiga hari (17-19 Juli) untuk meluncurkan proyek baru yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF) Badan Pangan dan Pertanian (FAO) dengan tujuan mengaktifkan kerjasama lintas batas untuk pengelolaan ekosistem laut indonesia (ISLME).

Kedua Pemerintah berkolaborasi untuk memastikan konservasi dan pengelolaan sumber daya and ekosistem kelautan dan perikanan yang berkelanjutan guna memastikan produktivitas Perairan terhadap keamanan pangan dan mata pencaharian yang lebih baik bagi masyarakat lokal yang menggantungkan aktifitas ekonomi mereka pada sektor perikanan di Perairan kedua negara.

ISLME mencakup total 2,13 juta kilometer persegi meliputi 98% perairan teritorial di Indonesia, dan sekitar 2% terletak di perairan wilayah Timor Leste. Sekitar 185 juta orang tinggal di wilayah ISLME, dan mereka sangat bergantung pada industri pesisir dan laut termasuk perikanan, budidaya air, produksi minyak dan gas, transportasi, dan pariwisata.

Proyek ini menyatukan dua Pemerintah dan berbagai organisasi di tingkat nasional, regional dan internasional untuk mengatasi masalah lintas batas yang rumit terkait dengan pengelolaan ekosistem dan sumber daya kelautan, termasuk pengembangan pendekatan ekosistem untuk budidaya Perikanan dan perlindungan sumberdaya perairan.

“Pertemuan dan agenda regional ini telah menjadi peluang penting bagi para pemangku kepentingan untuk belajar lebih banyak tentang aktifitas yang didukung oleh proyek, berbagi pengalaman, wawasan serta praktik dan pembelajaran terbaik,” ujar Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Stephen Rudgard seperti dikutip dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima pada Jumat 20 Juli 2018.

Pertemuan pertama Komite Pengarah Regional mengesahkan rencana kerja untuk tahun pertama. GEF memberikan sokongan dana sebesar USD 4 juta untuk mendukung pencapaian target nasional kedua negara selama periode 4 tahun.

Di Indonesia, dua Kementerian yang terlibat yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan bahwa proyek kerjasama ini akan sejalan dengan prioritas nasional seperti pengurangan praktek penangkapan ikan ilegal yang tidak dilaporkan (IUU) serta mengatasi kerusakan sumberdaya Perairan lainnya.

Proyek ini akan mengutamakan kolaborasi untuk melindungi dan memperkaya keanekaragaman hayati secara regional dan global dalam agar kawasan kekayaan hayati kedua negara tetap lestari dan makin baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi mendatang.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close