Riset Oxford: Modal Buzzer Indonesia Satu Jutaan, Musiman dan Suka Sebar Hoax  

  • Whatsapp
Sebaran penggunaan media sosial sebagai propaganda berdasarkan data Oxford.

INDOPOLITIKA.COM– Hasil penelitian Universitas Oxford tentang “The global disinformation order :  2019 global inventory of organized social media manipulation” atau singkatnya tentang penggunaan media sosial untuk propaganda politik, disinformasi, dan upaya melemahkan pers sedang hangat dibicarakan.

Apalagi sampai akhirnya dikaitkan dengan ‘buzzer’ yang dibiaya pemerintah. Padahal dari penelitian dengan tebal 26 halaman ini, Indonesia hanya ada di kategori rendah karena sifatnya musiman dan atau “amatiran” dengan biaya sekitar Rp 1-50 jutaan, tanpa dirinci sumbernya. Indonesia dalam menyebarkan propaganda menggunakan akun palsu dan robot dengan sifat informasi bohong dan kemudian memperkuat informasi bohong itu kembali.

Muat Lebih

Dalam hal ini, Indonesia bahkan jauh posisinya dengan pasukan siber Malaysia yang ada di kategori menengah. Malaysia menurut laporan ini setidaknya melibatkan 50-2000 orang secara terorganisir. Negara dengan penggunaan propaganda secara massif dengan biaya dan pasukan terorganisir berdasar laporan Oxford, yakni  China, Israel, Vietnam, UEA dan Amerika.

Kapasitas Tim

Yang dimaksud disini adalah cara atau tekhnis yang dilakukan para pelaku propaganda. Bisa berkaitan dengan perilaku, pengeluaran, alat, dan sumber daya yang mempekerjakan tim. Termasuk juga mempertimbangkan anggota pemerintah yang terlibat, kecanggihan alat, jumlah kampanye, ukuran dan permanennya tim, dan anggaran atau pengeluaran yang dilakukan serta ada tidaknya keterlibatan pihak lain di luar negeri.

Empat Kategori Tim Siber berdasar Penelitian Oxford :

1. Minimal cyber troop

Ditingkatan ini ada Angola, Argentina, Armenia, Australia, Kroasia, Ekuador, Yunani, Belanda, Korea Selatan, Swedia, Taiwan dan Tunisia.

2. Low capacity cyber troop

Melibatkan tim kecil yang mungkin aktif selama pemilihan atau referendum. Rata-rata kelompok ini sifatnya sementara, karena mereka bubar setelah selesai pemilu dan kembali muncul lagi ketika ada pemilu selanjutnya. Salah satu negara yang masuk kategori ini adalah Indonesia dengan nilai uang yang dikeluarkan antara Rp 1-50 juta (tanpa memerinci sumbernya). Selain itu Austria, Kolombia, Republik Ceko, Eritrea, Jerman, Honduras, Hongaria, Indonesia, Italia, Kenya, Makedonia, Moldova, Nigeria, Korea Utara, Polandia, Rwanda, Serbia, Afrika Selatan, Spanyol, Zimbabwe.

3. Medium cyber troop capacity

Melibatkan tim yang memiliki tim khusus dengan strategi yang jauh lebih konsisten. Bahkan terkadang beroperasi di luar negeri. Termasuk dalam negara ini antara lain Azerbaijan, Bahrain (estimasi nilai uang yang dikeluarkan USD 32 juta), Guatemala (estimasi anggaran USD 100.000), India (perkiraan anggota antara 30-500 orang dengan anggaran USD, 1,4 juta untuk iklan dan segala macamnya), Malaysia (melibatkan 50-2000 orang dengan pelatihan khusus).

4. High cyber troop)

Di tingkatan ini melibatkan sejumlah besar staf, dan pengeluaran anggaran besar untuk operasinya.  Bahkan sangat memungkin juga ada dana yang signifikan yang dihabiskan untuk penelitian dan pengembangan, serta banyak teknik yang digunakan. Ditingkatan ini fokusnya luar negeri (asing) dan dalam negeri itu sendiri.

Negara dalam kategori ini antara lain Cina (ada sekitar 300-2 juta orang terlibat dalam satu tim), Mesir, Iran, Israel (ada sekitar 400 orang yang dilatih secara khusus dengan budget skala USD 100 Juta), Uni Emirat Arab (mengeluarkan dana hingga USD 10 juta), Venezuela (sekitar 500 orang dilatih khusus), Vietnam (10 ribu orang), dan Amerika Serikat.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *