INDOPOLITIKA – Serangan rudal Iran di pangkalan pusat operasi Amerika Serikat (AS) di Kuwait melululantahkan lokasi tersebut dan menewaskan setidaknya enam orang tentara.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengakui, serangan Iran pada 1 Maret 2026 itu menembus pertahanan udara AS dan menghantam “pusat operasi tempur” di Kuwait.
Komando Pusat (CENTCOM), badan yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan enam tentara tewas dalam insiden tersebut.
Mengutip CNN, salah seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebut sebuah rudal Iran menghantam pusat komando bergerak pada pukul 9 pagi tanggal 1 Maret.
“Serangan itu tiba-tiba, tanpa peringatan atau sirene, sehingga tentara tidak punya waktu untuk mengungsi atau berlindung,” kata sumber tersebut.
Bangunan itu terus berasap selama berjam-jam setelah serangan. Pusat operasi dilalap api, dinding-dindingnya hancur akibat kekuatan ledakan.
Citra satelit komersial yang diambil pada saat itu menunjukkan bangunan pelabuhan terbakar, asap hitam tebal mengepul ke langit.
CENTCOM awalnya melaporkan bahwa tiga anggota militer AS tewas, tetapi tidak menyebutkan lokasi serangan tersebut.
Menurut sumber, puluhan orang berada di lokasi kejadian, termasuk beberapa personel militer yang keberadaannya awalnya tidak diketahui selama pencarian dan kemudian dipastikan tewas.
Upaya untuk menemukan jenazah juga memakan waktu cukup lama karena bangunan tersebut terus terbakar.
Militer AS belum merilis identitas prajurit yang meninggal tersebut.
Ini adalah korban jiwa pertama sejak AS meluncurkan Operasi “Teror” terhadap Iran pada 28 Februari.
Menteri Hegseth dan Presiden Donald Trump sama-sama memperingatkan bahwa AS dapat mengalami lebih banyak korban jiwa.
Seorang juru bicara CENTCOM mengatakan bahwa pada tanggal 2 Maret, setidaknya 18 tentara AS telah terluka parah. (Red)












Tinggalkan Balasan