INDOPOLITIKA.COM – Pengusaha resah dengan nilai tukar rupiah yang tembus Rp16 ribu per dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan pelemahan rupiah salah satunya disebabkan oleh konflik Timur Tengah. Pelemahan rupiah katanya akan berdampak pada kenaikan biaya produksi maupun biaya beban utang yang nilainya dalam dolar AS.

Pelemahan rupiah katanya akan paling berpengaruh bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti manufaktur.

“Hal ini harus benar-benar diantisipasi, karena dapat mempengaruhi harga jual produk dan daya beli masyarakat,” katanya dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (17/3).

Arsjad menambahkan pelemahan rupiah juga berdampak pada instrumen finansial di Indonesia seperti emas, minyak mentah, dan imbal hasil treasury 10-tahun (US10Y bond yield) yang telah mengalami peningkatan.

Risiko yang ditimbulkan terhadap pasar finansial katanya terus meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar yang bisa dilihat dari tekanan capital outflow.

Karena itu, Kadin berharap berharap pemerintah dapat tanggap melakukan berbagi kebijakan fiskal sehingga inflasi dan daya beli masyarakat dapat terus terjaga. Kadin juga berharap Bank Indonesia (BI) memperhatikan arah kebijakan suku bunga serta strategi pengendalian nilai tukar untuk menjaga kepercayaan pada pasar.

Kerja sama strategis regional katanya perlu terus dikomunikasikan segera dengan berbagai bank sentral dunia demi mengantisipasi dampak regional dan global eskalasi konflik.

Arsjad menambahkan Kadin juga terus mendukung pemerintah menggencarkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) terutama bagi produk atau industri yang masih bergantung pada impor.

“Sehingga jika ada situasi ‘shock’ pada nilai tukar, biaya produksi dan industri secara garis besar tidak akan terlalu terdampak,” kata Arsjad.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan pelemahan rupiah akan berpengaruh pada industri manufaktur nasional yang masih perlu mengimpor bahan baku dan barang modal. Apalagi katanya 70 persen dari total impor nasional adalah impor bahan baku atau penolong industri.

” Jadi dampak terhadap kenaikan overhead cost usaha industri manufaktur akan sangat memberatkan,” katanya.

Shinta mengatakan pelemahan rupiah akan dirasakan oleh semua subsektor manufaktur. Maklum, semua industri manufaktur nasional umumnya punya kebutuhan impor bahan baku atau penolong dan impor barang modal yang tinggi.

Ia menambahkan akan ada banyak industri manufaktur yang menekan volume produksi karena kenaikan beban biaya yang dikeluarkan perusahaan tapi tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.

Menurutnya, tidak semua pelaku industri manufaktur bisa menanggung kenaikan beban produksi yang tinggi akibat pelemahan rupiah.

“Tahun lalu saja kami lihat beberapa industri secara voluntary menghentikan produksi sementara karena bahan baku impor yang menjadi mahal karena pelemahan nilai tukar,” katanya.

Jika rupiah terus melemah selama lebih dari sebulan, Shinta mengatakan maka harga jual barang bisa naik. Imbasnya pertumbuhan penjualan atau konsumsi melambat dan tingkat inflasi akan naik di atas target inflasi nasional.(red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com