Internasional

Rusuh di Prancis Menentang Kebijakan Presiden Macron

Seorang pengunjung rasa melakukan aksi di Paris, Prancis pada 9 Oktober 2018. (Foto: EPA).

Paris: Prancis terpukul oleh protes dan pemogokan yang dihelat serikat pekerja menentang reformasi yang diusung pemerintahan Presiden Emmanuel Macron. Protes berlangsung di beberapa kota.
 
Dilansir The Express, Rabu 10 Oktober 2018, lima pengunjuk rasa ditangkap ketika kekerasan pecah dalam demonstrasi Paris ketika berbagai gambar menunjukkan polisi bersenjata Prancis menangani para pengunjuk rasa, melukai warga. Polisi pun menggunakan gas air mata demi mengendalikan para demonstran anarkis.
 
Seorang pengunjuk rasa dan perwira polisi terluka dalam bentrokan pada Selasa, yang merupakan yang pertama sejak Juni dan berlangsung di seantero kota Prancis, termasuk Nice, Marseilles, Tours, Rennes, dan Bayonne.
 
Mahasiswa, karyawan, dan pensiunan semua telah memprotes apa yang mereka yakini sebagai 'penghancuran model sosial'. Serikat pekerja termasuk Serikat Pekerja Konfederasi Buruh dan Pekerja Umum mengadakan protes di Paris terhadap 'kebijakan ideologis' dan reformasi.
 
"Gas air mata dan rudal dilontarkan, setidaknya satu orang terluka dalam protes ini," menurut surat kabar Prancis Le Figaro.
 
Foto-foto menunjukkan seorang pemuda terluka berdarah dari kepalanya saat asap tebal membubung udara. Petugas polisi Gendarmes dengan peralatan antihuru-hara membanjiri jalan-jalan di ibu kota Prancis, ketika para pemrotes — beberapa di antaranya bertopeng — mengajak bentrok para petugas.
 
Protes Paris merupakan salah satu dari sekitar 100 protes anti-pemerintah yang direncanakan di Prancis, pada Selasa. Polisi meredakan gangguan pada pukul 16:10 waktu setempat, menurut laporan media setempat.
 
Seorang pengunjuk rasa memegang spanduk yang bertuliskan 'Macron, pembunuh sistem sosial'. Demonstran lain mengenakan topeng wajah anarkis, petugas — yang berhasil difoto — menangkap salah satu demonstran.
 
Serikat Buruh CGT berkoar bahwa 50.000 orang ambil bagian dalam protes Paris, meskipun polisi yakin jumlahnya mendekati 11.000 pengunjuk rasa. Penyelenggara aksi mengatakan, protes serikat terakhir tiga bulan lalu diikuti 15.000 orang, sementara polisi menyebut angka sekitar 2.900.
 
Di Paris, para pemimpin serikat memimpin prosesi mengusung seruan: "Dimobilisasi untuk akses gratis ke pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan pensiun."
 
Menteri Tenaga Kerja Prancis Muriel Penicaud, mengatakan "undang-undang serikat dagang dan hak mogok adalah mutlak di negara ini dan alangkah baiknya hal itu terjadi".
 
Protes datang pada saat pemerintah merencanakan reformasi sistem pensiun dan tunjangan. Sistem transportasi bisa jadi terpengaruh oleh mogok lokal dan tempat-tempat tertentu serta sekolah-sekolah mungkin juga terpaksa ditutup. Pada Mei, serikat pekerja keras kiri memimpin protes jalanan di seluruh Negeri Mode menentang reformasi Presiden Macron di sektor publik.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close