Saatnya Perempuan Bergerak Massif Perangi Politik Uang di Pilkada

  • Whatsapp
Anggota Bawaslu RI, Ratna Dewi Pettalolo

INDOPOLITIKA.COM – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Ratna Dewi Pettalolo meyakinkan, keterlibatan perempuan dalam mengawasi pilkada punya andil besar sehingga perlu diperbanyak. Salah satunya, perempuan dapat berperan membangun kesadaran masyarakat untuk menolak politik uang.

Dia mengatakan, perempuan dapat ikut mencegah terjadinya pelanggaran pilkada sesuai dengan peran sosialnya masing-masing. Dewi mencontohkan, pengawasan perempuan yang dilakukan sebagai gerakan secara terstuktur, sistematis dan masif (TSM) melalui kelompok organisasi perempuan untuk memahami atau bahkan menangkap pelaku politik uang.

Bacaan Lainnya

“Saatnya perempuan bergerak memerangi politik uang untuk masa depan demokrasi yang lebih baik dan membangun pemerintahan yang bebas Korupsi,” kata Dewi dalam acara acara Sosialisasi Partisipatif Peran Perempuan Dalam Mewujudkan Pilkada 2020 Berintegritas di Poso, Sabtu (8/2/2020).

Menurutnya, perempuan juga bisa menjadi bagian penting yang menentukan kualitas keterpilihan calon perempuan yang bisa mewakili kepentingan perempuan dalam hal keadilan dan kesetaraan.

Dalam menangkal politik uang lanjut Dewi, perempuan dapat memahami terlebih dahulu apa itu politik uang. Caranya, perempuan dapat melakukan kajian terhadap persoalan-persoalan kepemiluan.

Hanya saja, ungkap Mantan Ketua Bawaslu Sulawesi Tengah itu, masih banyak perempuan yang kurang berminat untuk aktif dan terlibat di dalam kegiatan pengawasan pemilu atau pilkada.

Dewi menyatakan, hal itu menunjukkan karakteristik perempuan terhadap politik uang masih permisif. “Karena selain posisinya yang bisa mendulang perolehan suara calon, perempuan juga cenderung akan bungkam terhadap pelanggaran yang terjadi,” ketusnya.

Atas permasalahan tersebut, Dewi menegaskan, Bawaslu melakukan berbagai pendekatan kepada masyarakat, khususnya kalangan perempuan agar menghindari bahaya politik uang dalam kehidupan berdemokrasi.

“Pada dasarnya kehadiran perempuan dalam pengawasan pemilu atau pilkada dapat memiliki andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Anggota Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah Darmiati. Dirinya menilai perempuan masih rentan terpapar politik uang. Dia menceritakan pengalamannya ketika menjadi pengawas pada Pemilu 2014 lalu.

“Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, banyak sekali ibu-ibu yang menerima sembako dengan embel-embel untuk memilih calon tertentu dari peserta pemilu. Artinya, perempuan masih menjadi sasaran empuk oleh pelaku politik uang,” akunya.

“Kenapa perempuan perlu terlibat dalam pengawasan pemilu? Karena perempuan masih menjadi sasaran empuk politik uang oleh peserta pemilu,” tambah Darmiati.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *