Pemerintahan

Safeguard Untuk Bangkitkan Keunggulan Industri Keramik Indonesia

SERANG – Prestasi industri keramik indonesia selama ini sangat baik di tingkat mancanegara dan karenanya dimungkinkan menjadi salah satu industri unggulan. Industri keramik memiliki bahan baku, energi dan sumber daya manusia yang sekurangnya 70 persen berbasis lokal. Kepala staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengapresiasi potensi besar yang dimiliki industri keramik sebagai penghasil produk dalam negeri yang diakui oleh dunia internasional. Hal itu disampaikan Moeldoko kepada pengurus asosiasi industri keramik dalam acara kegiatan kunjungan kerja ke pabrik keramik Roman dan Arwana.

“Dulu industri keramik kita pernah jadi no 4 dunia, kenapa sekarang jadi nomor 9? Ini tentu tidak boleh dibiarkan. Apalagi industri keramik kita selain berpotensi jadi unggulan juga bisa menyerap banyak tenaga kerja. Bahan utamanya juga tidak ada yang impor. Secara umum, saya ingin mengajak semua pelaku industri pada umumnya juga agar bisa menarik investasi sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo,” tutur Moeldoko di pabrik keramik Arwana, Serang, Banten, Selasa, 16 Oktober 2018. Penyebaran industri keramik saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Jadi masih terbuka peluang besar untuk dikembangkan di daerah-daerah lain.

Di pabrik Roman keramik yang memproduksi keramik premium untuk segmen nasional dan eksport, Moeldoko terkesan melihat keunggulan produk keramik premium indonesia yang bermutu tinggi dan tidak kalah dengan produk negara lain. Baik kualitas maupun teknologi yang digunakan. Kunjungan lapangan ini juga merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo untuk memperkuat fundamental perekonomian dalam negeri dalam menghadapi kompetisi global. Khusus terkait industri keramik, Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 119/PMK.010/2018 telah menerapkan Safeguard (tindakan pengamanan bea masuk) produk keramik ubin Indonesia. “Ini adalah salah satu contoh konkret yang secara konsisten didorong oleh Presiden Joko Widodo untuk melindungi perekonomian kita dari perang dagang”, tegas Moeldoko pada Ketua Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Elisa Sinaga dan para pengurus lain.

ser2Safeguard industri keramik akan menjamin keberlangsungan industri ini dan bisa mencegah pemutusan hubungan kerja para pekerja industri keramik yang jumlahnya mencapai 150.000 orang. Juga turut menjamin keberlangsungan hidup tenaga kerja tidak langsung industri keramik yang jumlahnya sekitar 2 juta orang. Selain itu safeguard juga diharapkan akan menaikkan kembali volume produksi keramik nasional yang sekarang ini semakin turun. Karena banyaknya keramik impor yang masuk, saat ini sekitar 8 dari 46 industri keramik berhenti produksi dan menyebabkan sekitar 10.000 tenaga kerja di-rumah-kan. “Kita akan bangkitkan kembali kekuatan industri keramik Indonesia untuk menjamin dan menaikkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Meoldoko. Selain dikeluarkannya regulasi Safeguard, pengawasan di pelabuhan juga akan diperketat agar tidak terjadi praktik manipulasi dokumen impor maupun penyelundupan fisik. Aparat Bea Cukai dan penegak hukum lainnya akan didorong untuk melakukan pengawasan intensif di lapangan.

ser4Keramik adalah produk yang dibutuhkan dalam proses pembangunan yang dilakukan pemerintah, swasta dan warga masyarakat. Dalam setiap pembangunan gedung apapun, keramik menjadi bahan yang harus ada. Di tengah situasi ekonomi dunia yang kurang baik dan mengakibatkan menguatnya mata uang dollar, membeli dan memakai produk dalam negeri akan sangat membantu menguatkan pondasi ekonomi bangsa. Apalagi jika produk itu terbukti tak kalah dibandingkan dengan produk negara lain. “Saya mengajak masyarakat untuk semakin mencintai produk negara kita sendiri. Semakin mencintai merah-putih. Cintailah produk-produk dalam negeri. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?” ujar Moeldoko di akhir kunjungan lapangan.ser1

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close