Seandainya Jokowi Menteri, BUMN ‘Sakit’ Pasti Langsung Ditutup, Terlalu Enak Diberi Modal Terus

Presiden Jokowi memberikan pengarahan kepada petinggi BUMN. Foto: Tangkapan layar YouTube Setkab RI

INDOPOLITIKA.COM – Kondisi sejumlah perusahaan negara saat ini tengah dilanda ‘sakit’. Meski ‘sakit’, namun negara terus memberikan proteksi melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). Sungguh enak sekali.

Mengandaikan Presiden Jokowi sebagai Menteri BUMN, perusahaan pelat merah yang kondisinya ‘sakit’, pasti akan langsung ditutup saja, tidak ada istilahnya PNM terus menerus. Namun bagusnya, Jokowi adalah seorang Presiden, bukanlah Menteri BUMN.

Demikian setidaknya benang merah ‘sindiran’ Presiden Jokowi di hadapan sejumlah Direktur Utama BUMN dalam pengarahan di Kabupaten Manggarai Barat pada 14 Oktober 2021 sebagaimana diunggah ke akun YouTube Sekretariat Presiden pada Sabtu (16/10).

Sebagai catatan, pemerintah total sudah menyuntikkan modal hingga Rp106 triliun bagi perusahaan pelat merah dalam periode 2021 dan 2022.

“Sehingga, kalau yang lalu-lalu BUMN-BUMN kan banyak terlalu keseringan kita proteksi. Sakit tambahi PMN (Penyertaan Modal Negara). Sakit, suntik PMN. Maaf, terlalu enak sekali,” kata Jokowi sambil menggeleng-gelengkan kepala saat memberikan pengarahan.

Ia menilai bahwa pemberian modal negara itu mengurangi nilai-nilai yang ingin dibangun oleh negara terhadap perusahaan pelat merah yang berada di bawahnya. Misalnya, nilai kompetisi yang membuat BUMN tak berani untuk bersaing. Kemudian, mengambil resiko hingga nilai profesionalisme yang tak dijalankan.

Oleh sebab itu, Jokowi meminta agar perusahaan pelat merah tak lagi mendapat proteksi dana dari negara jika kondisi keuangannya sekarat.
“Kalau pak menteri (BUMN) ‘Pak ini ada seperti ini perusahaan kondisinya, BUMN’, kalau saya langsung, tutup saja” lanjut Jokowi.

Jokowi menegaskan bahwa visi negara terhadap BUMN jelas. Yakni, agar perusahaan pelat merah dapat mendunia dan bersaing dengan industri internasional.

Namun demikian, kata dia, pemberian modal-modal penyerta membuat upaya tersebut menjadi terlupakan. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta agar BUMN dapat beradaptasi terhadap dinamika global. Jika tidak, Jokowi mengancam akan menutup langsung perusahaan tak sehat.

Dunia, kata dia, saat ini tengah mengalami banyak perubahan. Mulai dari revolusi industri 4.0, disrupsi teknologi hingga situasi pandemi Covid-19.

“Kalau saudara-saudara tidak merespon dari ketidakpastian ini dengan adaptasi secepat-cepatnya, kalau pak Menteri sampaikan ke saya, ‘Pak, ini ada perusahaan seperti ini, kondisinya BUMN’. Kalau saya langsung, ‘tutup saja’. Nggak ada selamet-selametin kalau sudah begitu,” cetus Jokowi.

“Bapak-ibu, adalah orang terpilih, terseleksi. Saya tidak ingin mengajari yang namanya manajemen. Bapak-ibu jauh lebih jago,” tuturnya.

Jokowi meminta agar Direktur Utama yang kini memimpin perusahaan pelat merah dapat melakukan manajemen perusahan dengan maksimal dan beradaptasi.

Ia bahkan meminta agar mereka mau menggandeng perusahaan-perusahaan asing untuk berpartner dalam bisnis. Kata Jokowi, tak ada negara yang tak mau berpartner dengan Indonesia.

“Perusahaan global mana yang paling baik, ajak (berpartner). Pasti mau, dengan kita itu sudah, kita sudah dinilai prospek ke depan 10-20 tahun yang akan datang ini kita akan menjadi ekonomi empat besar dunia kok. Siapa yang gak mau, mau semua,” kata dia. [asa]


Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.