Sebutan Celana Cingkrang Diusul Diganti SURO, Begini Analisa Pakar Bahasa UIN Jakarta

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pakar bahasa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Hilmi Akmal mengatakan, celana cingkrang sama sekali tidak ada kaitannya dengan radikalisme.

Menurut dia, arti cingkrang sudah kadung dipahami secara salah kaprah oleh masyarakat. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata cingkrang adalah terlalu pendek.

Baca Juga:

“Jadi bila celana cingkrang dimaknai sebagai celana panjang yang ujungnya menggantung di atas mata kaki, maka itu tidak dapat dibenarkan bila melihat definisi dari KBBI,” kata Hilmi melalui keterangan tertulisnya yang diterima media, Sabtu, (2/11/2019).

Lanjut Hilmi, celana cingkrang yang secara maknawi tepat adalah celana yang terlalu pendek. Jadi lebih pendek dari celana pendek. “Mungkin dalam dunia fesyen disebut dengan celana _hot pants_, celana pendek yang ujungnya semakin jauh di atas lutut sehingga mendekati (maaf) area selangkangan. Apa ada orang yang terpapar radikalisme memakai celana _hot pants_ yang terlalu pendek alias cingkrang itu? Saya rasa tidak pernah ada,” bebernya.

Kemudian ada pula yang menyebut celana yang ujungnya menggantung di atas mata kaki itu sebagai celana sirwal. Menurut Hilmi, itu pun tidak tepat secara semantis karena sirwal adalah bahasa Arab untuk _celana_ dari kata _sirwalun_ (سروال). Jadi _celana sirwal_ ya artinya _celana ‘celana’_. “Itu menggelikan maknanya,” urainya.

Lantas disebut apa tepatnya celana yang ujungnya menggantung di atas mata kaki itu? “Menurut saya, karena celana model seperti itu mengikuti sunah Rasulullah dalam berpakaian, mengapa tidak disebut saja sebagai celana suro, celana sunnah rosul,” tuntasnya.{asa}

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *