Sejarah dan Perkembangan Islam di Rusia, Menjadi Mayoritas?

  • Whatsapp
Umat Islam melaksanakan salat Id di Masjid Kul Sharif di Kremlin Kazan pada Hari Raya Idul Fitri.

INDOPOLITIKA.COM – Agama Islam terus tumbuh dan berkembang di Rusia. Bahkan telah menjadiagama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar 21 – 28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk Rusia.

Sejumlah studi bahkan memprediksikan populasi umat Muslim di Rusia akan terus meningkat hingga 30 persen dalam satu tahun saja.

Berita Lainnya

Pernah menjadi kiblat Komunisme selama tujuh dekade, wajah Rusia kini telah berubah 180 derajat. Rusia merupakan rumah yang nyaman bagi sekitar 16 sampai 20 juta Muslim atau 12 hingga 15 persen dari total populasi negara itu menurut survei termutakhir.

Jumlah populasi Muslim yang signifikan terdapat di sejumlah kota besar, seperti Moskow dan St Petersburg.

Di Rusia terdapat beberapa republik yang di dominasi oleh pribumi Muslim, yakni di wilayah Volga-Ural (Tatarstan) dan Bashkortostan. Republik Tatarstan terletak di pusat Eropa Timur, sekitar 800 kilometer timur Moskow.

Sejarah Islam di Rusia

Dilansir dari Russia Beyond, Kota Derbent di Dagestan (1.900 km di selatan Moskow) adalah kota Rusia paling selatan, salah satu yang paling kuno, didirikan pada abad ke-6 S.M., dan sekaligus kota muslim pertama di wilayah Rusia modern.

Orang-orang Arab merebut Derbent pada abad ke-8 dan menjadikannya pusat persebaran Islam di Kaukasus Utara. Itu terjadi jauh sebelum orang-orang Rusia, yang pada waktu itu tinggal jauh di utara, memeluk Kristen Ortodoks pada tahun 988.

Akhirnya, Rus (begitulah nama Rusia saat itu) harus hidup berdampingan dengan tetangga-tetangga muslimnya meski situasinya tak selalu menyenangkan. Gerombolan Emas, sebuah negara yang didirikan oleh keturunan Genghis Khan, yang memaksa Rusia membayar upeti dari tahun 1260-an hingga 1480-an, telah diislamkan pada abad ke-14.

Kemudian, ketika tsar pertama menyatukan Rusia, mereka berperang melawan negara-negara Islam yang bermunculan setelah Gerombolan Emas bubar.

Saat itulah, Rusia mendapatkan populasi muslim pertamanya — pada 1552, Ivan IV (Ivan yang Mengerikan) merebut Kazan, ibu kota orang-orang Tatar, dan menyebabkan kota itu menjadi kota dengan penduduk muslim terpadat di Rusia.

Pada abad ke-16 hingga ke-18, Rusia terus menaklukkan wilayah yang didominasi muslim — di sekitar Sungai Volga, di Kaukasus, Krimea dan, kemudian, Asia Tengah. Pada masa itu, pemerintah kekaisaran sering kali bertindak kejam.

“Gubernur-gubernur Rusia, bersama hierarki Ortodoks, bertekad untuk memberantas Islam. Mereka menghancurkan banyak masjid dan membunuh banyak mullah,” tulis situs web Caucasian Knot. Saat itu, sikap setiap penguasa sama. Mereka berusaha memaksakan agama mereka di wilayah baru.

Baru pada 1780-an, Ekaterina yang Agung membentuk sebuah badan resmi untuk memperlakukan kaum muslim di wilayah Kekaisaran Rusia secara adil dan membiarkan mereka menjadi bagian dari masyarakat.

Seperti umat non-Kristen Ortodoks lainnya di Rusia, komunitas muslim di negara ini juga menyaksikan tahapan yang sama: periode kebebasan beragama yang singkat setelah revolusi 1905, penindasan agama selama era Soviet pada 1924 – 1991, dan pendekatan yang cukup liberal dalam pembentukan Federasi Rusia yang baru.

Berkembang Pesat

Perkembangan dan kemajuan Islam itu terus tumbuh dan berkembang di negara beruang merah tersebut dan para ahli memperkirakan dalam waktu yang tidak lama Islam akan menjadi mayoritas penduduk di Rusia.

Jika pada masa kepemimpinan Joseph Stalin pada 1937 jumlah masjid di seluruh Rusia terdapat kurang dari 100 buah, pada tahun 1995 jumlahnya telah mencapai 5.000 masjid.

Jumlah organisasi keislaman selama kurang dari satu dasawarsa sejak runtuhnya Uni Soviet (1991-1999) juga mengalami peningkatan dari 870 menjadi 3.000 organisasi.

“Organisasi-organisasi ini menjadi faktor penggerak kehidupan beragama secara kualitatif, dengan menyelenggarakan pendidikan-pendidikan keislaman, pendirian madrasah bagi generasi muda Islam,” kata Dosen Program Studi Rusia di Universitas Indonesia (UI), Ahmad Fahrurodji dikutip dari Republika, Rabu (14/4/2021).

Saat ini setidaknya 60 dari 100 orang yang mengaku beragama adalah mereka yang berusia produktif dan 10 hingga 15 orang di antaranya adalah beragama Islam. Menurut Fahruroji, kaum muslim Rusia kini telah mengambil langkah penting untuk menyiapkan kader-kader mubalighnya.

Mereka membuat program kerjasama pendidikan dengan negara-negara muslim seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, Qatar, dan Suriah. Langkah konkretnya berupa pengiriman para guru agama untuk memperdalam Islam di negara-negara tersebut. Belum lama ini pemerintah Rusia juga memfasilitasi berdirinya Universitas Islam pertama di negeri itu.

“Dari sekitar 100 etnis yang ada di wilayah Rusia, ada sekitar 40 etnis yang secara tradisional menganut islam sebagai agama mereka,” pungkas Fahruroji. [rif]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *