Internasional

Sejarah Singkat Krimea, Semenanjung yang Dua Kali Diduduki Rusia

Angkatan Laut Rusia di Krimea. (Foto: AFP)

Jakarta: Krimea, sebuah wilayah otonom di Ukraina, dianeksasi Rusia pada 2014 lewat sebuah referendum. Mayoritas warga kala itu mendukung Krimea untuk berpisah dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.

Uni Eropa, Amerika Serikat dan sejumlah negara lain menganggap referendum tersebut ilegal. Empat tahun berlalu, Krimea masih berada di bawah kendali Rusia. 

Komisioner Presiden Ukraina untuk Urusan Masyarakat Tatar Krimea, Mustafa Dzhemilev, mencoba menggambarkan situasi Krimea saat ini. Ia menekankan kepada nasib yang dialami Tatar, warga asli Krimea.

Mustafa memulai dengan menceritakan sejarah singkat Krimea. Pada awalnya, Krimea pernah memiliki status sebagai sebuah negara. Krimea kemudian diduduki Rusia pada 1783 yang merupakan buntut dari berakhirnya Perang Russo-Turkish.

Waktu berlalu. Status pendudukan Rusia di Krimea dihapus. Krimea kembali terlepas dari jerat Rusia. Saat itu, jumlah warga di Krimea berkisar 19 persen dari total populasi Ukraina.

Uni Soviet kemudian datang, dan Mustafa menuturkan, kondisi di Krimea menjadi lebih keras dari sebelumnya. Banyak orang yang dideportasi dari Krimea, dan Rusia membawa banyak warganya ke wilayah otonom tersebut.

"Kami kehilangan hampir 40 persen warga. Setelah dideportasi, banyak dari warga kami yang berusaha kembali ke Krimea," ujar Mustafa, saat ditemui di Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta, Selasa 14 Agustus 2018.


Mustafa Dzhemilev (tengah) di Kedubes Ukraina. (Foto: Willy Haryono)

Meski terus ditekan, warga Krimea tetap berjuang lewat cara-cara non-kekerasan. Mustafa mengaku sempat dipenjara 15 tahun hanya karena menyatakan keinginan untuk kembali ke Krimea.

Krimea akhirnya bebas dan kembali menjadi wilayah otonom usai runtuhnya Uni Soviet runtuh dan kemerdekaan Ukraina pada 1991. Namun kala itu, masih banyak warga Krimea yang tidak bisa pulang di beberapa negara, seperti Uzbekistan dan Tajikistan.

Memasuki tahun 2014, Krimea kembali jatuh ke tangan Rusia lewat sebuah referendum. Kehidupan warga Krimea, terutama Tatar, kembali ditekan seperti pada era 1783. 

"Di Krimea saat ini, sebagian besar warga ditekan pasukan pengawas Rusia. Namun yang paling ditindas adalah Tatar, karena mereka menentang pendudukan Rusia," sebut Mustafa.

Karena dianeksasi Rusia, sebagian warga Krimea pun memilih pergi. Ada yang pergi ke daratan utama Ukraina, dan ada juga yang memilih menyeberang ke Rusia. "Tapi bagi Tatar, kami tidak tahu harus pergi kemana lagi," ungkap Mustafa.

Bagi Tatar, Krimea adalah tempat kelahiran. Namun bagi Rusia, ucap Mustafa, Krimea hanyalah sebuah lokasi untuk dijadikan instalasi militer.

Ia menyebut jika pendudukan ini terus berlanjut, maka perdamaian di kawasan tidak akan pernah tercapai. Mustafa menegaskan aneksasi ini merupakan sebuah langkah yang tidak pernah diakui komunitas internasional.

"Itulah mengapa kami merasa perlu untuk menyerukan situasi di Krimea saat ini ke dunia. Masalah ini menurut saya tidak terlalu diperhatikan masyarakat dunia," pungkas Mustafa.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close